Satgas BGC Kongo Ungkap Ada Perbedaan Misi Dibanding Sebelumnya karena Konflik Antarsuku

Jakarta, IDM – Satuan Tugas (Satgas) Batalyon Gerak Cepat (BGC) TNI Kontingen Garuda (Konga) XXXIX-G Monusco bakal berangkat ke Kongo untuk mengemban misi perdamaian di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Komandan Satgas BGC Konga XXXIX-G Monusco Kolonel (Inf) Fardin Wardhana mengatakan bahwa misi kali ini memiliki karakter tersendiri dibandingkan dengan rotasi-rotasi sebelumnya.
“Kebetulan kami pernah melaksanakan beberapa kali misi yang ditunjuk oleh Indonesia, baik misi Lebanon maupun misi Monusco. Pada misi Monusco ini memang agak sedikit terjadi perbedaan, karena konflik yang terjadi di daerah Kongo merupakan konflik antarsuku,” kata Fardin dalam keterangannya, Senin (6/10).
Baca Juga: Lanud Husein Sastranegara Gelar Open Base HUT ke-80 TNI, Dipadati Ribuan Warga Bandung
Fardin mengatakan, konflik terjadi akibat pasukan-pasukan yang dibangun oleh milisi setempat.
“(Ada) ketidakpercayaan satu dengan yang lain. Kami harapkan kehadiran kami di sana dapat membawa perubahan menuju kehidupan yang lebih baik,” ujar Fardin.
Fardin menyebut, pasukannya telah melaksanakan latihan pra-keberangkatan untuk menghadapi situasi yang kompleks di lapangan.
“Kami melaksanakan kegiatan latihan di bawah TNI. Saya rasa cukup memberikan pembekalan kepada kami, kepada prajurit yang akan bertugas di lapangan tentang hal-hal yang harus dan tidak boleh dilakukan,” kata Fardin.
Satgas juga akan terus berpegang teguh standar operasional prosedur (SOP) dan rule of engagement (ROE) pasukan PBB.
Baca Juga: Prajurit Kostrad Gugur, Jatuh dari Tank Marder
Kolonel Fardin juga menegaskan bahwa pasukannya membawa pesan khusus dari Presiden Prabowo Subianto, yakni “seribu kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak.”
Adapun Satgas BGC TNI Konga XXXIX-G dikomandani Kolonel Fardin dengan jumlah personel 850 prajurit, terdiri dari prajurit TNI AD, TNI AL, dan TNI AU, termasuk 50 prajurit wanita.
Pasukan akan ditempatkan di empat daerah operasi yaitu Bunia, Tchabi, Komanda, dan Bogoro.
Satgas dilepas melalui upacara yang dipimpin Asisten Operasi (Asops) Panglima TNI Letjen TNI Bobby Rinal Makmun selaku inspektur upacara di Lapangan Markas Besar TNI, Jakarta Timur, Jumat (3/10).
Baca Juga: TNI AL Perkenalkan 2 Drone Pengintai Modern saat Defile HUT ke-80 di Monas
“Satgas ini memiliki tanggung jawab strategis melindungi warga sipil, mendukung stabilitas politik setempat, memberikan perlindungan kepada personel dan unsur PBB, serta melakukan pengawasan terhadap embargo senjata,” ujar Bobby, dikutip keterangan pers Pusat Penerangan TNI, Sabtu (4/10).
Satgas BGC diamanatkan untuk melindungi anak-anak dan menegakkan hak asasi manusia (HAM) di wilayah tugas.
Satgas juga memiliki tugas tambahan untuk memberi pelatihan rencana kontijensi dan mencegah aktivitas kelompok bersenjata. (nma)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































