Sambut Kedatangan KRI Brawijaya-320, Menhan Sjafrie: Bagian dari Perisai Trisula Nusantara

Jakarta, IDM – Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin mewakili pemerintah menyambut kedatangan kapal fregat baru TNI Angkatan Laut, KRI Brawijaya-320, yang bersandar di Dermaga 107, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (8/9).
Dalam kesempatan itu, Menhan Sjafrie didampingi Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Kepala Staf TNI AL (KSAL) Laksamana Muhammad Ali, Wakil KSAL Laksdya Erwin S Aldedharma beserta sejumlah pimpinan matra laut.
“Atas nama Presiden pemimpin tertinggi TNI, saya ingin menyampaikan selamat datang, dan atas nama seluruh rakyat Indonesia, kita berbangga hati menerima KRI Brawijaya-320 sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari penguatan pembangunan kekuatan TNI yang kita sebut sebagai Perisai Trisula Nusantara,” kata Sjafrie saat memberi arahan di geladak helikopter KRI Brawijaya.
Baca Juga: 319 Bintara Dilantik Jadi Prajurit Arhanud TNI AD Pangkat Letda
Adapun Perisai Trisula Nusantara merupakan rencana induk pertahanan negara 25 tahun ke depan untuk memperkuat kekuatan dan kesiapan TNI dalam menjamin kedaulatan dan kelangsungan hidup bangsa.
Menhan RI mengatakan, kedatangan KRI Brawijaya-320 merupakan kebanggaan sekaligus tantangan bagi militer Indonesia untuk terus memelihara kemampuan dan keterampilan guna mengawal kedaulatan negara.

“Selaku Menteri Pertahanan, saya ingin menyampaikan pesan agar supaya Panglima TNI dan KSAL terus memelihara kesiapan kemampuan dan keterampilan dari seluruh perangkat KRI Brawijaya-320 sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kesiapan kita untuk menghadapi ancaman yang datang dari dalam dan dari luar,” ucap Sjafrie.
Baca Juga: Seorang Ibu di Perbatasan Serahkan Senpi Springfield ke TNI
KRI Brawijaya-320 tiba di Tanah Air setelah berlayar selama 44 hari dari La Spezia, Italia. KRI Brawijaya dikomandani Kolonel Laut (P) John David Nalasakti Sondakh dan membawa 160 awak kapal.
Sejak diberangkatkan dari Italia, kapal buatan galangan Fincantieri itu telah menempuh pelayaran sejauh 9.189 nautical miles (Nm) dan menyinggahi enam negara, antara lain Italia, Turki, Mesir, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Sri Lanka.
Bersama KRI Siliwangi-321 yang juga buatan Fincantieri, KRI Brawijaya merupakan pesanan Kemhan RI untuk TNI AL. Kedua KRI tersebut telah melalui acara serah terima di Muggiano, Italia, pada 2 Juli 2025, yang dipimpin KSAL Muhammad Ali.
Baca Juga: F-15 Eagle Mendarat di Lanud RSN, TNI AU-USAF Siap Gelar Latma Cope West 2025
Sebelumnya, KRI Brawijaya dan KRI Siliwangi merupakan kapal berjenis PPA (Pattugliatore Polivalente d'Altura) atau Multipurpose Combat Ship yang merupakan bagian dari Angkatan Laut Italia. Kedua kapal itu kemudian diakuisisi Indonesia.
Menhan Sjafrie menyampaikan terima kasih kepada pemerintah Italia, khususnya Fincanteri, yang telah bekerja sama lewat pengadaan dua kapal tersebut. “Satu lagi akan menyusul adalah KRI Prabu Siliwangi,” kata Sjafrie.
KRI Brawijaya-320 akan ditempatkan di wilayah Komando Armada (Koarmada) II untuk melengkapi satuan kapal eskorta. (nma)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































