HANKAM

Ratusan Taruna Tingkat III AAU Ikuti Latsitardanus XLVI di Aceh Tamiang

Taruna tingkat III AAU
Taruna tingkat III AAU mengikuti Latihan Integrasi Taruna Wreda Nusantara (Latsitardanus) XLVI 2026 di Kabupaten Aceh Tamiang. (Foto: Dok. Instagram @aauacid)

Jakarta, IDM – Sebanyak 154 Taruna tingkat III Akademi Angkatan Udara (AAU) mengikuti Latihan Integrasi Taruna Wreda Nusantara (Latsitardanus) XLVI yang tahun ini dilaksanakan di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh.

Para taruna bertolak menuju Aceh Tamiang pada 17 Januari 2026 bersama kontingen lainnya, dengan menggunakan KRI milik TNI Angkatan Laut (TNI AL) dari Dermaga Tanjung Mas, Semarang.

Selain Taruna AAU, Satgastar Latsitardanus XLVI Tahun 2026 juga melibatkan Taruna Akademi Militer (Akmil), Akademi Angkatan Laut (AAL), Akademi Kepolisian (Akpol), perwakilan dari Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI), Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), dan Politeknik Siber dan Sandi Negara (Poltek SSN).

Baca Juga: Satuan Elite Indonesia dan Amerika akan Gelar Latihan Bersama April Mendatang

Sebelum bertolak menuju Semarang, para taruna AAU terlebih dahulu mengikuti upacara pelepasan yang dipimpin oleh Gubernur AAU Marsda TNI Donald Kasenda di Lapangan Dirgantara AAU, Kamis (15/1).

Gubernur AAU berpesan agar para taruna dapat bersinergi dengan pemerintah daerah dalam pemulihan pascabencana melalui berbagai kegiatan kemanusiaan, seperti pendampingan masyarakat, kerja bakti, dan distribusi bantuan.

Gubernur AAU Marsda TNI Donald Kasenda
Gubernur AAU Marsda TNI Donald Kasenda memimpin upacara pelepasan Taruna tingkat III AAU yang mengikuti Latsitardanus XLVI 2026 di Kabupaten Aceh Tamiang. (Foto: Dok. Instagram @aauacid)

Kabupaten Aceh Tamiang memang menjadi salah satu titik di Provinsi Aceh yang terdampak banjir dengan kondisi yang memperihatinkan.

Untuk itu, penyelenggaraan Latsitardanus diharapkan dapat mendukung percepatan pemulihan wilayah terdampak bencana banjir di Kabupaten Aceh Tamiang.

Baca Juga: Presiden Prabowo Tegaskan Peran Panglima Tertinggi lewat Pertemuan Rutin dengan Pimpinan TNI

"Kondisi Aceh Tamiang pascabanjir saat ini masih memerlukan dukungan berbagai pihak, termasuk dari unsur kemiliteran yang terlatih untuk membantu percepatan pemulihan. Kehadiran kontingen AAU diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya terpadu tersebut," tutur Gubernur AAU.

Menutup amanatnya, Marsda TNI Donald juga menekankan pentingnya sikap disiplin serta soliditas para Taruna AAU selama bertugas.

“Kepada para taruna, saya tegaskan untuk selalu berpedoman pada persustar dan perduptar, menjaga soliditas serta solidaritas, baik antar sesama taruna maupun dengan peserta Latsitardanus lainnya dan elemen masyarakat,” tegas Gubernur AAU dikutip dari unggahan instagram @aauacid, Sabtu (17/1). (yas)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Prajurit Denjaka

Deretan Senjata Tempur Denjaka untuk Operasi Khusus Aspek Laut

Di balik nama Detasemen Jalamangkara (Denjaka), tersimpan daya gempur yang ditopang oleh persenjataan lintas platform. Satuan elite penanggulangan teror aspek laut TNI AL ini mengandalkan beragam senapan dan pistol khusus dari berbagai negara untuk menuntaskan misi di tri-matra.

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.