HANKAM

Rapimau 2023, KSAU Tegaskan Komitmen TNI AU untuk Jaga Stabilitas Negara

Fadjar Prasetyo
KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo. (Foto: IDM/Jessica Yiswi)

Jakarta, IDM - Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Fadjar Prasetyo membuka Rapat Pimpinan (Rapim) TNI AU tahun 2023 yang digelar di Puri Ardhya Garini, Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (10/2).

Dengan mengusung tema “Mewujudkan TNI AU yang disegani di kawasan sebagai Patriot NKRI, yang siap mendukung dan mengamankan pembangunan nasional”, Rapim TNI AU tahun ini diikuti oleh 196 peserta secara tatap muka dan 177 yang hadir secara online, termasuk di antaranya pejabat TNI Angkatan Udara (TNI AU) yang berdinas di sejumlah Kementerian, Lembaga, dan Mabes TNI.

Kepada para peserta Rapim, Fadjar berpesan agar TNI AU terus berkomtimen menjalankan perannya sebagai instrumen pertahanan negara dan menjalankan tugas dalam menjaga stabilitas pertahanan serta keamanan negara.

Stabilitas tersebut menjadi hal penting lantaran di tengah pemulihan ekonomi nasional, Indonesia membutuhkan kondisi yang stabil. Selain itu, dengan kontribusi TNI AU dalam menjaga stabilitas keamanan, hal tersebut juga dapat membantu terlaksananya sejumlah program serta rencana kerja pemerintah dengan baik dan berkesinambungan.

KSAU
KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo beserta sejumlah pejabat Mabes AU saat menghadiri Rapim TNI AU yang digelar di Jakarta, Jumat (10/2). (Foto: Dok. Dispenau)

"Disinilah peran serta TNI AU bersama seluruh matra TNI-Polri, untuk menciptakan kondisi pertahanan dan stabilitas bangsa yang kokoh, sebagai fondasi dalam mendukung seluruh tingkatan pembangunan nasional," tegas KSAU dalam keterangan Dispenau yang diterima redaksi IDM.

Pada kesempatan yang sama, KSAU kembali mengingatkan perihal tujuh prioritas nasional dalam rencana kerja pemerintah tahun 2023 yang menjadi arahan dan penekanan Presiden RI Joko Widodo maupun Panglima TNI.

“Tujuh prioritas, meliputi memperkuat ekonomi nasional, mengembangkan wilayah untuk menjamin pemerataan, meningkatkan kualitas SDM, revolusi mental, memperkuat insfrastruktur ekonomi, membangun lingkungan hidup untuk ketahanan bencana, memperkuat stabilitas Polhuk-Hankam dan transformasi pelayanan publik,” jelasnya.

Baca: Sesuai Arahan Menhan, KSAD Pastikan Tahun Ini Bangun Kodam Baru di Seluruh Provinsi

Selain arahan dari KSAU, Rapim TNI AU tahun ini juga menghadirkan empat pembicara untuk menyampaikan sejumlah materi yang terbagi dalam dua sesi. Pada sesi pertama terdapat Gubernur Lemhannas Andi Wijayanto, yang menyampaikan materi Perang Udara 2030 dan Dirjen Penetapan Hak dan Pendaftaran Tanah Kementrian ATR/BPN Ir. Suyus Windayawan yang menyampaikan materi, Pengelolaan Aset TNI AU dalam Aspek Penataan Ruang & Pertahanan.

Sementara pada sesi kedua tampil Wakasau Marsdya TNI A.Gustaf Brugman yang menyampaikan topik Binpersman dan Aspotdirga KSAU Marsma TNI Andi Wijaya menyampaikan topik Rencana Rinci Wilayah Pertahanan Udara (RRWP). (yas)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.