Rapim TNI AL Bahas Evaluasi Kegiatan 2021

Jakarta, IDM - TNI Angkatan Laut (TNI AL) menggelar Rapat Pimpinan (Rapim) 2022 bertempatan di Auditorium Denma Mabesal Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (02/03). Rapim TNI AL tahun ini mengusung tema "TNI AL yang profesional, modern dan tangguh siap mendukung upaya pemulihan ekonomi dan reformasi struktural" dan dibuka oleh KSAL Laksamana TNI Yudo Margono.
Kegiatan ini juga bertujuan untuk menyampaikan kebijakan pemerintah dan panglima TNI Tahun 2022 serta pokok-pokok kebijakan KSAL tahun 2022, mengevaluasi pencapaian program dan kegiatan tahun 2021, mengidentifikasi dan menganalisa permasalahan yang di hadapi guna menemukan solusi pemecahan dan tindak lanjut penyelesaian dalam rangka meningkatkan kinerja dan hasil pelaksanaan tugas pokok.
Selain itu dalam Rapim juga turut dibahas sejumlah isu-isu menonjol yang berpengaruh pada pelaksanaan program kerja TNI AL di masa mendatang.
Rapim tersebut diikuti oleh para pejabat utama Mabesal, para pimpinan kotama TNI AL serta kesatuan TNI AL seluruh Indonesia melalui tata muka dan video conference (Vicon). (ADT)
Hankam

Deretan Senjata Tempur Denjaka untuk Operasi Khusus Aspek Laut
Di balik nama Detasemen Jalamangkara (Denjaka), tersimpan daya gempur yang ditopang oleh persenjataan lintas platform. Satuan elite penanggulangan teror aspek laut TNI AL ini mengandalkan beragam senapan dan pistol khusus dari berbagai negara untuk menuntaskan misi di tri-matra.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































