HANKAM

Rapat di Hambalang, Menhan Sjafrie Laporkan Perkembangan Satgas Kuala dan Operasi Insurgensi di Papua

Sjafrie Sjamsoeddin
Menhan Sjafrie Sjamsoeddin rapat bersama Presiden Prabowo Subianto di Hambalang. (Foto: Dok. Instagram Sjafrie Sjamsoeddin)

Jakarta, IDM – Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin melaporkan sejumlah perkembangan terkait tugas pokok dan fungsi (tupoksi) Kementerian Pertahanan dan TNI saat rapat dengan Presiden Prabowo Subianto di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Minggu (25/1).

Menhan Sjafrie melaporkan situasi nasional selama lawatan Presiden Prabowo ke Inggris hingga Prancis.

“Tidak ada hal-hal yang ganjil yang terjadi, yang menganggu stabilitas nasional selama beliau meninggalkan Tanah Air,” ujar Sjafrie selepas rapat bersama Komisi I DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (26/1).

Baca Juga: Resmi Diserahterimakan, Letkol Inf Fajar Akhirudin Jabat Danbrigif 6 Kostrad

Kemudian, Sjafrie juga melaporkan perkembangan Satuan Tugas Kuala, satgas yang bertugas mengeruk sungai-sungai dangkal tertimbun tanah akibat banjir dan longsor wilayah Sumatra.

“Nanti pada bulan Februari ini, lumpur yang berada di muara itu akan disedot ke tonggang, kemudian kita simpan, dan kita cek kadar dari lumpur itu sendiri, apakah ada hal-hal yang memperlukan perhatian khusus,” tutur Menhan RI.

Selain itu, Sjafrie juga melaporkan soal perkembangan kinerja satgas pembangunan jembatan TNI Angkatan Darat di Sumatra.

“Dan juga saya melaporkan bahwa operasi insurgensi yang dilaksanakan di Papua ini meningkat keberhasilannya,” ujar Sjafrie.

Terbaru, TNI melalui Satuan Tugas Komando Operasi (Koops) Habema berhasil menguasai markas Organisasi Papua Merdeka (OPM) Kodap XVI Yahukimo dalam patroli keamanan di kawasan Jalan Gunung, Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, Kamis (22/1).

Baca Juga: Pemulihan Pascabencana, C-130 Hercules TNI AU Angkut Ribuan Material untuk Pembangunan Huntara ke Medan

Dalam patroli tersebut, satgas melakukan infiltrasi ke dua markas, yakni Sisibia dan Yalenang.

“Sedangkan lain-lain yang beliau minta adalah efisiensi (di Kemhan dan TNI). Kemudian akuntabilitas di dalam mengelola anggaran yang diberikan negara ke TNI, dengan memperhatikan penegakan hukum bagi mereka-mereka yang melakukan penyimpangan dan penyelewengan terhadap penggunaan anggaran,” kata Sjafrie.

Rapat di Hambalang tersebut turut dihadiri sejumlah menteri di Kabinet Merah Putih, di antaranya Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa hingga Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi. Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Muhammad Herindra, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, dan Wakil Panglima Jenderal Tandyo Budi Revita turut ikut dalam rapat. (nma)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.