Punya Nilai Historis, Puspenerbad Bangun Monumen Helikopter Bell 205A1

Jakarta, IDM - Dianggap mempunyai nilai historis dan berkiprah dalam berbagai penugasan operasi militer TNI AD, Pusat Penerbangan Angkatan Darat (Puspenerbad) resmi membangun Monumen Helikopter Bell 205A1 di Mapuspenerbad, Pondok Cabe.
Dalam keterangan resminya diterima redaksi, Jumat, (6/1) pembangunan monumen ini ditandai dengan acara peletakan batu pertama yang dilakukan Danpuspenerbad Mayjen TNI Dwi Wahyu Winarto, Kamis, (5/1).
Pada kesempatan tersebut Dwi mengatakan pembangunan monumen helikopter Puspenerbad ini mempunyai makna dan nilai sejarah serta menjadikan motivasi dengan mengingat perjuangan para pendahulu yang telah mengabdi kepada bangsa dan negara dengan penuh pengorbanan.
"Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya," kata Danpuspenerbad.
Baca: Pratu Ronal Siahaan Wakili Indonesia Seleksi MMA di San Diego
Peletakan batu pertama ini ditandai dengan pembacaan Doa dan pemotongan tumpeng oleh Danpuspenerbad selanjutnya diberikan kepada Kepala pekerja pembangunan monumen helikopter Puspenerbad dengan harapan semoga pembangunan manumen berjalan lancar, aman dan selesai tepat waktu. (rr)
Hankam

Deretan Senjata Tempur Denjaka untuk Operasi Khusus Aspek Laut
Di balik nama Detasemen Jalamangkara (Denjaka), tersimpan daya gempur yang ditopang oleh persenjataan lintas platform. Satuan elite penanggulangan teror aspek laut TNI AL ini mengandalkan beragam senapan dan pistol khusus dari berbagai negara untuk menuntaskan misi di tri-matra.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































