Prajurit Yonif 1 Marinir Kuasai Wilayah Musuh dengan Pendaratan Khusus

Jakarta, IDM - Prajurit Batalyon Infanteri (Yonif) 1 Marinir melaksanakan pendaratan khusus pada latihan Satuan Dasar Brigif 2 Marinir di Pantai Tamban, Malang, Jawa Timur, Kamis (25/5) dini hari.
Dikutip dari keterangan Dispen Kormar, pada simulasi latihan tersebut diawali dengan penyampian perintah operasi (PO) oleh Komandan Kompi Latihan kepada pasukan yang akan melaksanakan pendaratan khusus.
Baca Juga: KSAL Bahas Kerja Sama Pertahanan dengan Tiga Pimpinan AL Negara Sahabat
Pendaratan khusus dilaksanakan menggunakan sarana pendarat perahu karet dalam keadaan khusus secara senyap dan rahasia, menuju pantai pendaratan dengan melewati gelombang tinggi dan arus laut deras serta cuaca gelap.

Komandan Batalyon Infanteri (Danyonif) 1 Marinir Letkol (Mar) Roni Saputra, selaku Perwira Pelaksana Latihan (Palaklat) berpesan kepada seluruh prajurit agar selalu mengasah naluri tempur supaya semakin tajam.
Baca Juga: Lanal Pulau Rote Jemput 12 Nelayan Terdampar di Perbatasan Perairan Indonesia-Australia
"Serta dapat mewujudkan kesiapsiagaan operasional satuan dalam menghadapi setiap ancaman yang mengganggu stabilitas NKRI," ujarnya. (at)
Hankam

Deretan Senjata Tempur Denjaka untuk Operasi Khusus Aspek Laut
Di balik nama Detasemen Jalamangkara (Denjaka), tersimpan daya gempur yang ditopang oleh persenjataan lintas platform. Satuan elite penanggulangan teror aspek laut TNI AL ini mengandalkan beragam senapan dan pistol khusus dari berbagai negara untuk menuntaskan misi di tri-matra.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































