Prajurit TNI AL Gagalkan Penyelundupan Penyu di Raja Ampat

Jakarta, IDM - Prajurit Lantamal XIV berhasil menggagalkan penyelundupan penyu di Raja Ampat, Papua Baratdaya, Senin (19/6).
Mengutip keterangan Dispenal, Rabu (21/6) informasi terkait penyelundupan tersebut bermula dari laporan masyarakat kepada Balai Konservasi Suaka Daerah dan Alam (BKSDA).
Baca Juga: Delegasi Militer ASEAN Bahas Rencana Latma ASEX-01N
Informasi tentang keberadaan penyu di KM Sabuk Nusantara 96 itu kemudian diteruskan ke Pos TNI AL (Posal). Penelusuran pun dilakukan bersama instansi terkait. Hasilnya, ditemukan 3 ekor penyu hijau hidup terbungkus rapi dalam karung.
Tim gabungan yang terdiri dari Posal, Satuan Polairud Polres Raja Ampat, Balai Kawasan Konservasi Perairan(BKKPN) Kupang Satker Raja Ampat akhirnya melepasliarkan penyu langka tersebut ke habitatnya di pesisir Pantai Salio, Waisai.
Baca Juga: TNI AL dan AL Turki Tingkatkan Kerja Sama Penggunaan Teknologi Maritim
Langkah para prajurit tersebut sejalan dengan permintaan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali agar prajurit TNI AL ikut aktif melestarikan lingkungan. (un)
Hankam

Deretan Senjata Tempur Denjaka untuk Operasi Khusus Aspek Laut
Di balik nama Detasemen Jalamangkara (Denjaka), tersimpan daya gempur yang ditopang oleh persenjataan lintas platform. Satuan elite penanggulangan teror aspek laut TNI AL ini mengandalkan beragam senapan dan pistol khusus dari berbagai negara untuk menuntaskan misi di tri-matra.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































