HANKAM

Prajurit TNI AD di Papua Diminta Belajar Nilai Perjuangan dari Marthen Indey

an Danrem 172/PWY, Brigjen TNI Tagor Rio Pasaribu
Rombongan Danrem 172/PWY, Brigjen TNI Tagor Rio Pasaribu yang berziarah ke makam Marthen Indey yang terletak di Kampung Sabron Yaru, Distrik Sentani Barat Moy, Kab. Jayapura, Papua. (Foto: Pendam XVII/Cenderawasih)

Jakarta, IDM – Komandan Korem (Danrem) 172/PWY, Brigjen TNI Tagor Rio Pasaribu meminta generasi penerus khususnya prajurit TNI AD yang bertugas di tanah Papua belajar nilai-nilai perjuangan dari Pahlawan Nasional asal Papua, Marthen Indey.

Hal ini dikatakannya saat ziarah ke makam Marthen Indey yang terletak di Kampung Sabron Yaru, Distrik Sentani Barat Moy, Kab. Jayapura, Papua. Marthen Indey wafat pada tanggal 17 Juni.

"Ziarah ini bukan sekadar rutinitas seremonial, namun sebagai momen refleksi dan penanaman nilai-nilai perjuangan kepada generasi penerus, khususnya prajurit TNI AD yang bertugas di tanah Papua. Kami datang untuk menghormati perjuangan beliau dan semoga semangat nasionalisme serta pengorbanan almarhum menjadi teladan bagi kita semua dalam menjaga keutuhan dan kedamaian Papua,” ujar Tagor dalam keterangannya dikutip dari Pendam XVII/Cenderawasih, Rabu (18/6).

Baca Juga: TNI Terjunkan Kopasgat, Jihandak, dan Siagakan Pesawat Tangani Ancaman Bom Pesawat Airlines

Marthen Indey lahir di Doromena, Papua, 14 Maret 1912 silam, ialah salah seorang putra Papua yang ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai Pahlawan Nasional Indonesia, bersama dengan dua putra Papua lainnya, yaitu Frans Kaisiepo dan Silas Papare.

Sebelum berjuang bersama para pejuang, pada Februari 1941, Marthen Indey awalnya seorang polisi Belanda. Marthen adalah lulusan sekolah polisi di Sukabumi. Saat kembali ke Papua, ia ditugaskan untuk mengawasi tokoh-tokoh pejuang Indonesia yang diasingkan Belanda ke Digoel.

Di tempat inilah Marthen mulai berkenalan dengan tokoh-tokoh pejuang sehingga membangkitkan semangat kebangsaan Indonesia dari dalam dirinya. Ia pun merencanakan pemberontakan bersama 31 orang agen polisi bawahannya untuk menangkap orang-orang Belanda.

Baca Juga: Hadiri Paris Airshow 2025, Pangkoopsudnas Jajaki Peluang Kerja Sama Pengembangan Alutsista

Namun rencananya bocor, akibatnya, Marthen bersama anak buahnya menjalani hukuman selama delapan bulan di Pesnamman.

Pada 1946, Marthen bergabung dengan organisasi politik bernama Komite Indonesia Merdeka (KIM), yang kemudian dikenal dengan sebutan Partai Indonesia Merdeka (PIM). Kemudian, pada 1962 Marthen bergerilya menyelamatkan anggota RPKAD yang didaratkan di Papua selama masa Tri Komando Rakyat (Trikora).

Di tahun yang sama, Marthen menyampaikan Piagam Kota Baru yang berisi mengenai keinginan kuat penduduk Papua untuk tetap setia pada wilayah kesatuan Indonesia. Akhirnya, Irian Barat resmi bergabung dengan wilayah kesatuan Indonesia dan berganti nama menjadi Irian Jaya. (rr)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.