Prajurit Batalyon Howitzer 2 Marinir Latihan Gerakan Artileri Medan

Surabaya, IDM - Prajurit Batalyon Howitzer 2 Marinir berlatih gerakan artileri medan untuk mengasah dan mempertajam kemahiran ilmu artileri medan, Surabaya, Selasa (27/9).
Kegiatan latihan tersebut dipimpin oleh Komandan Baterai Tempur Bravo (Danraipur B) Lettu (Mar) Bagus Raganata dengan melibatkan tiga pucuk material tempur meriam LG I MK II Howitzer 105 mm, diawali pemberian perintah operasi dan pelaksanaan gerakan artileri medan.
Komandan Batalyon Howitzer (Danyonhow) 2 Marinir Letkol (Mae) Jon Gustap Kahiking, menyampaikan latihan tersebut salah satu bentuk pembinaan personel untuk memelihara dan meningkatkan kemampuan serta keterampilan profesi dalam mengawaki material pada saat gerakan artileri medan.
"Laksanakan latihan dengan penuh semangat, profesional serta tetap mengedepankan faktor keamanan dan keselamatan, baik personel maupun material," ujarnya, dikutip dari keterangan Dispen Kormar, Rabu (28/9).
Kegiatan latihan tersebut juga dalam rangka menerapkan perintah harian Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono, tentang membangun sumber daya manusia unggul dan profesional serta tangguh dalam menghadapi segala ancaman. (at)
Hankam

Deretan Senjata Tempur Denjaka untuk Operasi Khusus Aspek Laut
Di balik nama Detasemen Jalamangkara (Denjaka), tersimpan daya gempur yang ditopang oleh persenjataan lintas platform. Satuan elite penanggulangan teror aspek laut TNI AL ini mengandalkan beragam senapan dan pistol khusus dari berbagai negara untuk menuntaskan misi di tri-matra.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































