Potret Perjuangan Prajurit TNI Jaga Perbatasan di Papua

Jakarta, IDM - Senin, (25/9/2023) kemarin Satgas Pamtas RI-PNG Yonif 122/Tombak Sakti menggelar patroli gabungan dengan Bea Cukai, Imigrasi, Karantina, BNPP dan Polri di perbatasan RI-PNG. Mereka memantau sekaligus menyusuri jalur-jalur tikus/jalur tidak resmi (JTR) wilayah PLBN Skouw.
Baca Juga: Operasi Komodo Jaya-23, Korvet Pemburu Kapal Selam KRI Hasan Basri Merplug di Semarang
"Kami menyusuri garis perbatasan dan melaksanakan pengecekan di daerah-daerah yang rawan terjadinya kegiatan penyelundupan dan pelanggaran wilayah perbatasan RI-PNG," kata Wadansatgas Kapten Inf Adi Prayogo Wicaksono dalam keterangan resminya, Selasa, (26/9).

Ia menjelaskan pelaksanaan patroli gabungan ini merupakan suatu kegiatan rutin untuk meminimalisir kejahatan lintas negara selain itu juga untuk menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas).
Baca Juga: Pangkostrad: Kemajuan Teknologi Alutsista Sudah Canggih, ke Depan Banyak Drone dan Satelit
"Patroli gabungan ini juga dimaksudkan sebagai upaya antisipasi pencegahan penyelundupan narkotika, komoditas pertanian dan meminimalisir kegiatan ilegal lain di wilayah perbatasan," kata Wadansatgas. (rr)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































