HANKAM

Platoon Exchange 2024: Marinir Indonesia-Amerika Dalami Materi Penggunaan Drone dan Mortir

Prajurit Marinir TNI AL dan USMC
Prajurit Marinir TNI AL dan USMC mengikuti pendalaman materi pengunaan drone, alat komunikasi, dan senjata bantuan mortir di Situbondo, Jawa Timur, Selasa (9/7). (Foto: Dok. Pasmar 2)

Jakarta, IDM – Prajurit Marinir TNI AL dan Amerika Serikat (USMC) I MEF mengulik materi penggunaan pesawat nirawak (drone) pengintai dalam rangkaian latihan bersama Joint Combine Exercise Training (JCET) Platoon Exchange 2024 di Situbondo, Jawa Timur, Selasa (9/7).

Dikutip dari keterangan Pasmar 2, selain mengikuti penjelasan materi tentang drone pengintai, prajurit Marinir kedua negara itu juga mendalami materi penggunaan alat komunikasi dan senjatan bantuan mortir.

Komandan Batalyon Infanteri (Danyonif) 1 Marinir Letkol (Mar) Roni Saputra menekankan kepada prajuritnya agar mampu menyerap dan memajami materi yang disampaikan oleh Marinir Amerika Serikat.

Baca Juga: Bakamla Terima Hibah Kapal Patroli dari Pemerintah Jepang

"Hal tersebut dapat membentuk kolaborasi dan integrasi yang baik oleh kedua negara," ujar Roni selaku Komandan Satgas Latma Platoon Exchange 2024.

Prajurit Marinir TNI AL dan USMC
(Foto: Dok. Pasmar 2)

Sebaliknya, ia juga berharap para prajurit Marinir Amerika Serikat mampu memahami bekal pengetahuan dan pengalaman yang diberikan oleh prajurit Marinir TNI AL selama operasi di medan tugas.

"Laksanakan latihan dengan penuh rasa tanggung jawab, penuh semangat, ciptakan suasana kegembiraan. Serap ilmu sebaik-baiknya dan laksanakan prosedur keamanan terhadap personel dan material," tandasnya.

Baca Juga: Tinjau Marinir-Kopaska di Hawaii, Pangkoarmada II Lihat Kecanggihan Drone SkyRaider Amerika

Adapun latihan bersama Platoon Exchange 2024 dijadwalkan berlangsung selama dua pekan, yaitu 8-21 Juli di Pusat Latihan Pertempuran Marinir 5, Baluran, Situbondo, Jawa Timur.

Prajurit Marinir TNI AL dan USMC
(Foto: Dok. Pasmar 2)

Roni menjelaskan, Korps Marinir sebagai salah satu komando utama TNI AL, dituntut memiliki kesiapan operasional dan kemampuan untuk menghadapi berbagai bentuk ancaman, gangguan, dan hambatan yang mengancam kedaulatan negara, keutuhan wilayah serta keselamatan warga Indonesia.

"Tuntutan kemampuan Marinir TNI AL salah satunya adalah mampu mewujudkan peperangan operasi amfibi dengan proyeksi kemampuannya dari laut ke darat dan operasi darat lanjutan," pungkasnya. (at)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.