Perdana! TNI AD Sukses Uji Tembak Roket Strategis TRG-122 ITBM

Jakarta, IDM – Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) melalui Yonarmed 22/Kesumawira sukses melaksanakan uji tembak perdana (firing test) roket strategis TRG-122 Indonesia Tactical Ballistic Missile (ITBM) di Kutai Kartanegara, Selasa (20/10).
Dilansir dari keterangan Penpussenarmed, uji coba tersebut ditinjau langsung oleh Komandan Pusat Kesenjataan Artileri Medan (Danpussenarmed) Mayjen TNI Budi Eko Mulyono.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pilot shoot kemudian dilanjutkan dengan penembakan tiga unit roket TRG-122. Danpussenarmed mendapatkan kesempatan pertama untuk melakukan penembakan, dilanjutkan oleh Kasdam VI/Mulawarman dan Danyonarmed 22/Kesumawira.
Baca Juga: Lokasi Ini jadi Markas Baru Skadron 41
Menurut Danpussenarmed, keberhasilan ini mencerminkan kemajuan teknologi alutsista, kemampuan mencapai akurasi tembakan yang tinggi, serta daya hancur yang signifikan. Hal ini sekaligus menegaskan peran ITBM sebagai alutsista strategis yang berpotensi menjadi game changer dalam peperangan modern.
"Keberhasilan ini merupakan wujud nyata pembinaan satuan yang berorientasi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, profesionalisme prajurit, dan kesiapan operasional Yonarmed 22/Kesumawira dalam mengemban tugas menjaga kedaulatan dan keutuhan NKRI," kata Danpussenarmed.
Untuk diketahui, TRG-122 adalah roket artileri berpemandu (guided rocket/missile) kaliber 122 mm yang dikembangkan oleh produsen industri pertahanan asal Turki, Roketsan.
Baca Juga: Kendali Satgas Yonif 133 Beralih, TNI Perkuat Koordinasi Operasi di Papua
Di lingkungan TNI Angkatan Darat, sistem roket ini diintegrasikan dalam program ITBM, yaitu penamaan atau kategori operasional untuk alutsista roket dan rudal taktis berpemandu berpresisi tinggi yang memperkuat jajaran Pussenarmed TNI AD.
Berbeda dengan roket artileri konvensional, TRG-122 merupakan roket modern berteknologi tinggi. Roket ini memiliki spesifikasi kaliber 122 mm dengan jangkauan efektif berada pada rentang 13 km hingga 30 km.
Sementara itu, sistem navigasi dan pemandu pada roket ini menggunakan teknologi GPS/GLONASS-Aided INS (Inertial Navigation System) untuk pemanduan berpresisi tinggi.
Untuk tingkat akurasi (Circular Error Probable/CEP) tercatat sangat tinggi, yaitu kurang dari atau sama dengan 10 meter dari titik sasaran.
Baca Juga: Misi Perdamaian di Pasifik, Satgas TNI AL Temui Perdana Menteri Kepulauan Solomon
TRG-122 ITBM dikategorikan sebagai alutsista strategis karena memiliki beberapa keunggulan operasional. Pertama, tembakan presisi tinggi (pinpoint strike), di mana roket ini mampu menghancurkan sasaran bernilai tinggi (high-priority targets) seperti pos komando, stasiun radar, peluncur rudal musuh, dan logistik tanpa membutuhkan amunisi dalam jumlah banyak.
Kedua, roket ini minim kerusakan kolateral lantaran keakuratan pemandu berbasis navigasi satelit mampu mengurangi risiko meleset serta dampak pada area sekitar target.
Ketiga, roket ini memiliki respons cepat dengan sistem peluncuran modern yang memungkinkan penyiapan tembakan dalam waktu singkat (short reaction time), sehingga sangat ideal untuk doktrin peperangan modern berkecepatan tinggi.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































