Pentingnya Ilmu "Kartografi" Peta Khusus bagi Prajurit Satfib dan Satkopaska Koarmada II

Jakarta, IDM - Divisi pantai Satuan Kapal Amfibi (Satfib) dan Satuan Komando Pasukan Katak (Satkopaska) Koarmada II menggelar latihan kartografi selama tiga hari di divisi pantai, baseplate Satfib, dan pantai Satfib Koarmada II, Rabu (18/10).
Dikutip dari keterangan Dispen Koarmada II, kartografi adalah ilmu yang mempelajari mengenai peta khusus yang menggambarkan tentang kondisi dasar laut di pantai berdasarkan dari hasil penyelidikan atau pengintaian pantai.
Baca Juga: Kadispsiad Pimpin Delegasi Dispsiad pada Ajang IMTA-IMLA ke-63
Nantinya, hasil tersebut dijadikan sebagai data untuk menentukan layak atau tidaknya sebuah pantai digunakan untuk operasi tertentu, seperti operasi pndaratan amfibi.
Komandan Divisi Pantai Letkol Laut (P) Surya Ari Muryanto, menyampaikan dengan melalui latihan ini diharapkan dapat memberikan gambaran dan pengetahuan tentang kartografi kepada prajurit divisi pantai.
Baca Juga: Wamenhan: Satuan Infanteri Harus Berevolusi untuk Memenangkan Pertempuran di Masa Depan
"Karena tugas pokok divisi pantai yaitu menunjang suatu operasi amfibi dan osratmin, khususnya pandu gelombang dalam GKK Lintas Permukaan," pungkasnya. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































