HANKAM

Pendidikan Standarisasi PSDP, TNI AU Selaraskan Kemampuan Calon Penerbang Militer

acara PSDP
Acara pembukaan pendidikan Standarisasi PSDP Khusus Penerbang Tahun Anggaran 2026. (Foto: Dok. tni-au.mil.id)

Jakarta, IDM – TNI Angkatan Udara (TNI AU) menggelar Pendidikan Standarisasi PSDP Khusus Penerbang Tahun Anggaran 2026 sebagai langkah strategis untuk menyelaraskan kemampuan, pengetahuan, keterampilan, hingga mental para calon penerbang militer.

Pendidikan tersebut dibuka secara resmi oleh Komandan Pusat Pendidikan Kodiklatau Marsma TNI Sapuan di Lanud Adisoetjipto, Yogyakarta, Senin (30/3).

Baca Juga: Kodim 1702/Jayawijaya Resmi Buka KKRI 2026, Perkuat Karakter Nasionalisme Pelajar Papua

“Pendidikan ini merupakan tahapan penting dalam pembinaan personel, khususnya dalam membentuk perwira penerbang yang memiliki kualitas unggul dan siap menghadapi dinamika operasi udara, serta siap dioperasionalkan di satuan masing-masing” ungkap Marsma TNI Sapuan.

Ia menambahkan, pendidikan penerbang kini mengalami transformasi yang signifikan, khususnya di tengah perkembangan teknologi yang begitu pesat. Salah satu transformasi tersebut dilakukan melalui pemanfaatan berbagai inovasi modern dalam proses pendidikan.

“Mulai dari simulasi berbasis komputer, analisis data penerbangan, hingga sistem pembelajaran digital terintegrasi, seluruhnya menjadi bagian penting dalam meningkatkan efektivitas dan kualitas pendidikan,” pungkas Komandan Pusat Pendidikan Kodiklatau.

Baca Juga: Pangkogasgabpamtaswil Darat XII/Tpr: Tingkatkan Koordinasi dan Jaga Stabilitas Keamanan Wilayah Perbatasan

Tahapan Pendidikan Standarisasi

Pendidikan standarisasi pada dasarnya menjadi sarana untuk membekali para penerbang militer dengan kemampuan teknis serta taktis di bidang penerbangan.

Marsma TNI Sapuan
Komandan Pusat Pendidikan Kodiklatau Marsma TNI Sapuan membuka secara resmi pendidikan Standarisasi PSDP Khusus Penerbang Tahun Anggaran 2026. (Foto: Dok. tni-au.mil.id)

Pendidikan tersebut dijadwalkan berlangsung selama kurang lebih dua setengah bulan atau 12 minggu. TNI AU melalui laman resminya, tni-au.mil.id, yang dikutip Selasa (31/3) menjelaskan, para siswa akan menjalani sejumlah tahapan pendidikan, mulai dari bina kelas murni, bina kelas paralel, dan bina terbang dengan menggunakan pesawat latih Grob.

Baca Juga: Dikreg Sesko TNI Tahun Ini Gunakan Metode “Blended Learning”, Lima Perwira Negara Sahabat Turut Serta

Adapun materi pendidikan yang diberikan mencakup teori dasar penerbangan, pengenalan karakteristik pesawat, prosedur keselamatan terbang, hingga latihan praktik bersama instruktur.

Pada tahap lanjutan, siswa yang telah memenuhi standar kemampuan akan melaksanakan terbang solo sebagai indikator awal kemandirian dalam mengoperasikan pesawat.

Selanjutnya, mereka akan menjalani latihan navigasi jarak jauh yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan perencanaan penerbangan, ketepatan navigasi, pengambilan keputusan di udara, serta kesiapan mental sebagai calon penerbang militer.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.