Panglima TNI Yudo Terima Brevet Komando dan Baret Merah Kopassus

Jakarta, IDM - Panglima TNI Laksamana TNI Yudo Margono menerima brevet komando sebagai warga kehormatan khusus yang disematkan langsung oleh Danjen Kopassus Brigjen TNI Iwan Setiawan di Jakarta, Selasa (27/12).
Pada kesempatan tersebut, Yudo mengaku merasa bangga saat menerima brevet komando, baret merah, dan pisau komando pasukan khusus.
"Brevet komando melambangkan prajurit yang telah melewati latihan berat dan memiliki kecekatan di bidang operasi darat, laut, maupun udara," kata Yudo di Makopassus, Cijantung.
Selain itu, ia juga menilai baret merah Kopassus melambangkan keberanian luar biasa dan motivasi tinggi untuk meraih kesuksesan serta keseimbangan intelegensi, kecerdasan emosional atau EQ.
"Baret merah yang saya kenakan jadi konsekuensi dan menuntun saya sebagai Panglima TNI untuk ikut serta memajukan Kopassus serta berperilaku selayaknya prajjurit komando," ujarnya.
Baca: TNI AL Gagalkan Penyelundupan 45 Kg Sabu di Perairan Aceh
"Oleh karena itu, izinkan saya berterima kasih kepada KSAD, Danjen Kopassus serta keluarga besar baret merah yang menerima saya jadi bagian dari keluarga prajurit komando yang penuh prestasi," imbuhnya. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































