Pangkostrad Kunjungi Nduga Papua Gunakan Helikopter Lengkap dengan Senjata Otomatis

Jakarta, IDM - Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) Letnan Jenderal TNI Muhamamd Saleh Mustafa mengunjungi langsung pasukan TNI yang sedang bertugas di daerah rawan zona merah di Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, Sabtu (30/12/2023).
Dengan menggunakan helicopter Caracal TNI AU yang dilengkapi dengan senjata mesin otomatis, Jenderal TNI penyandang tiga bintang emas itu datang dari Jakarta untuk berjumpa dengan prajurit TNI dari Satgas Mobile Yonif 411/Pandawa Kostrad dan Satgas Intai Tempur (Taipur) Kostrad.
Dilansir dari keterangan resminya Dansatgas Mobile Yonif 411/Pandawa Kostrad, Letkol Inf Subandi, Pangkostrad datang bersama dengan Irkostrad Mayjen TNI M. Reza Utama, Pangdivif 3 Kostrad Mayjen TNI Choirul Anam, Asintel Kaskostrad Brigjen TNI Putra Widyawinaya, Asops Kaskostrad Brigjen TNI Christian Kurnianto Tehuteru, Aspers Kaskostrad Brigjen TNI Moh. Imam Gogor, Asintel Kasdivif 3 Kostrad, Danbrigif 20/IJK, Dansektor Timur dan Kasi Ops Sektor Timur dan Kasmin Pangkostrad.
Baca Juga: Panglima TNI Berikan Tali Asih dan Umroh Gratis Bagi Prajurit dan PNS TNI di Penghujung Tahun 2023
Setelah mendarat di Landing Zone Pos Barak Baru, Panglima Kostrad beserta dan rombongan disambut oleh Dansatgas Mobile Yonif 411/Pandawa Kostrad dan Para Ksatria Kostrad, turut hadir juga dalam penyambutan Dandim 1706/Nduga, Kasintel Sektor Timur, Kapos Kenyam Satgas Elang IV, Dansektor Satgas Kopasgat, Danki Satgas Damai Cartenz 2024, Dantimsus Delta Satgas Elang IV, Dantim Satgas Mandala IV, Kasubagdalops Polres Nduga dan Dantim Pos Nduga Deninteldam XVII/Cenderawasih.
Selanjutnya Pangkostrad beserta rombongan menuju ke Pos Barak Baru untuk bertemu langsung dengan Para Prajurit Kostrad yang sedang melaksanakan tugas sebagai (Satgas Pamtas RI-PNG Mobile) di Kenyam.

Tiba di Pos Barak Baru Pangkostrad yang menggunakan perlengkapan tempur rompi, helm dan senjata laras panjang langsung berganti menggunakan baret hijau Darma Putra kebanggaan Kostrad untuk selanjutnya menemui dan menyapa langsung pasukan Kostrad.
Kedatangan Letjen TNI Muhammad Saleh Mustafa yang baru menjabat sebagai Pangkostrad pada awal bulan Desember lalu, menjadi semangat dan kebahagiaan bagi Prajurit Kostrad yang sedang bertugas di daerah rawan.
Baca Juga: Prabowo Resmikan 5 Titik Air Bersih di Sukabumi, Kini Total 110 di Seluruh Indonesia
Dalam pengarahannya, Pangkostrad mengatakan, bahwa kedatangannya ke Kenyam ini adalah untuk melihat secara langsung prajurit yang sedang bertugas, memastikan semuanya sehat, serta memiliki moril yang tinggi untuk melaksanakan tugas dengan baik, dan meraih keberhasilan.
"Saya datang ke sini bersama rombongan, Irkostrad dan para asisten dengan hati ikhlas mereka ikut mendampingi saya , dulu sebelum saya menjabat Pangkostrad saya sudah punya niat untuk bertemu dengan Satgas Yonif 411/Pandawa di daerah operasi, dan hari ini saya datang kesini," ucap Pangkostrad.
Prajurit juga dipesankan untuk selali menanamkan semangat juang dalam bertempur, dan melakukan tugas dengan hati yang tulus ikhlas demi memberikan pengabdian terbaik kepada bangsa dan negara, serta membawa dampak positif bagi masyarakat dalam membantu kesulitannya. (rr)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































