HANKAM

Pangkoarmada RI dan Panglima Armada Barat Malaysia Resmi Tutup Patkor Malindo 170/25

Pangkoarmada RI Laksdya Denih Hendrata
Pangkoarmada RI Laksdya Denih Hendrata bersama Panglima Armada Barat TLDM Laksdya Dato’ Baharudin bin Wan Md Nor resmi menutup Patkor Malindo 170/25 di Mako Kodaeral I, Belawan, Kamis (13/11). (Foto: Dok. Dispen Koarmada RI)

Jakarta, IDM – Panglima Komando Armada (Pangkoarmada) RI Laksdya Denih Hendrata menerima kunjungan Panglima Armada Barat Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM) Laksdya Dato’ Baharudin bin Wan Md Nor di Mako Kodaeral I, Belawan, Kamis (14/11).

Pertemuan tersebut juga menjadi salah satu rangkaian penutupan patroli terkoordinasi (Patkor) Malindo 170/25 antara TNI AL dan TLDM.

“Penutupan 170/25 ini sekaligus menandai berakhirnya seluruh serial Patkor Malindo 2025 yang berlangsung empat kali dan melibatkan unsur KRI serta KD dari kedua negara,” ungkap Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Koarmada RI Kolonel Laut (P) Wishnu Ardiansyah dalam keterangannya, dikutip di Jakarta, Jumat (14/11).

Baca Juga: Danseskoau: Pendidikan Militer Profesional Bentuk Karakter Perwira Kompeten dan Berintegritas

Adapun Patkor Malindo merupakan kerja sama rutin TNI AL dan TLDM untuk menjaga stabilitas dan keamanan jalur strategis Selat Malaka.

“Program ini juga menjadi salah satu implementasi konkret High Level Committee (HLC) antara TNI dan ATM,” ujar Wishnu.

Malindo
(Foto: Dok. Dispen Koarmada RI)

Sebelumnya, Patkor Malindo 170/25 diawali dengan pembukaan Patkor 170/25 di Langkawi, Malaysia, Senin (10/11). Empat kapal perang dikerahkan dalam patroli gabungan ini, KRI Bubara-868 dan KRI Torani-860 dari TNI AL, serta KD Kinabalu-14 dan KD Ledang-13 dari TLDM. Satgas Patkor Malindo-170/25 dipimpin oleh Letkol Laut (P) Novie A. Dolonseda, yang juga menjabat sebagai Komandan KRI Tuna-876.

Selama patroli, keempat kapal perang dari TNI AL dan TLDM juga berkesempatan melakukan latihan gabungan, seperti communication check, manuver leaving harbour, latihan manuver perwira jaga anjungan, serta sail pass.

Baca Juga: Kunjungi Satuan Yonif 509, Danbrigif 9 Ingatkan Enam Perintah Harian Panglima Kostrad

Sepanjang 2025, Patkor Malindo pertama kali digelar pada 16–28 Februari dengan area operasi perairan Selat Malaka bagian utara. Saat itu, dalam Patkor Malindo 167/25, unsur yang dikerahkan dari TNI AL antara lain KRI Bubara-868 dan KRI Lemadang-632, sedangkan TLDM mengirim KD Laksamana Hang Nadim-134 dan KD Jerai-12.

Berikutnya, Patkor Malindo-168/25 dilaksanakan 23 Juni–2 Juli di perairan sekitar Belawan dan Port Klang. Dua kapal perang TLDM sandar di Belawan untuk membuka kegiatan, sementara unsur TNI AL mengerahkan KRI Beladau-643 dan KRI Siada-862.

Seri ketiga, Patkor Malindo-169/25, berlangsung 10–24 September di Selat Malaka bagian tengah, melibatkan KRI Bubara-868 dan KRI Torani-860 dari Indonesia serta KD Ledang-13 dan KD Kinabalu-14 dari Malaysia. Kemudian seri keempat Patkor Malindo-170/25 digelar pada November ini. (at)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.