Pangdam Sriwijaya: Prajurit TNI AD Jangan Jadi Backing Kegiatan Ilegal

Jakarta, IDM – Panglima Kodam II/Sriwijaya, Mayjen TNI M. Naudi Nurdika memiliki para prajurit TNI AD khususnya prajurit di Kodam II/Sriwijaya untuk jangan menjadi backing kegiatan ilegal. Hal ini dikatakannya saat pertama kali mengunjungi Makorem 042/Gapu di Provinsi Jambi, Kamis, (20/6).
Baca Juga: Taifib Lakukan Serangan Raid terhadap Musuh di Pantai Muara Banten
"Untuk para anggota dilarang bermain judi online, bijak dalam penggunaan medsos, menjauhi narkoba dan tidak menjadi backing dalam kegiatan illegal," kata Pangdam dalam keterangannya dikutip, Jumat, (21/6).

Lebih lanjut Pangdam juga menekankan beberapa hal terkait pembinaan latihan. Pangdam meminta untuk membudayakan bela diri taktis militer, menembak reaksi dan olah raga lari di satuan.
Baca Juga: Cegah Judi Online, TNI Akan Monitoring Keuangan Prajurit dan Keluarga
"Selain itu dalam rangka mendukung program unggulan KSAD, saya juga mengingatkan kepada seluruh jajarannya untuk memaksimalkan pelaksanaan Optimasi Lahan (Opla), dan membantu pemerintah daerah dalam membangun melalui program TMMD yang berkualitas dan bermanfaat untuk masyarakat," kata Pangdam. (rr)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































