MOT 2025, Penerbang Tempur TNI AU Tingkatkan Kesiapsiagaan Operasional Terbang Malam

Jakarta, IDM – Sejumlah penerbang tempur TNI Angkatan Udara (TNI AU) mengikuti latihan terbang malam sebagai bagian dari Mission Oriented Training (MOT) 2025 yang digelar di Lanud Iswahjudi, Magetan, Jawa Timur.
Secara khusus, sesi latihan terbang malam bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan operasional para penerbang di kondisi malam hari, sekaligus meningkatkan profesionalisme ground crew dalam menyiapkan pesawat secara optimal.
Komandan Lanud Iswahjudi, Marsma TNI Muchtadi Anjar Legowo menjelaskan, pihaknya melibatkan tiga skadron utama dalam latihan kali ini, yang mencakup Skadron Udara 3, 14, dan 15 dengan dua jenis pesawat tempur, yakni F-16 Fighting Falcon serta T-50i Golden Eagle.
Baca Juga: 10 Komandan Kapal Perang TNI AL Jalani Uji Kompetensi Tempur
“Latihan terbang malam dalam MOT bertujuan untuk mengasah profisiensi penerbang serta kru pendukung dalam menghadapi berbagai skenario misi udara, termasuk operasi di lingkungan gelap yang menuntut ketepatan navigasi dan koordinasi tinggi,” tutur Anjar saat memimpin briefing penerbangan dikutip dari instagram @lanud_iswahjudi, Jumat (31/10).
Ia berpesan agar seluruh personel yang terlibat dalam latihan dapat mengutamakan faktor keselamatan (safety) serta mematuhi prosedur standar operasional dan protokol keselamatan terbang.

“Latihan ini bukan hanya tentang kemampuan teknis, tetapi juga membangun kerja sama tim yang solid untuk mendukung misi pertahanan negara," ungkap Danlanud Iswahjudi.
Baca Juga: Presiden Prabowo Tegaskan Perang Melawan Narkoba, TNI Tangkap 3 Pelaku di Perbatasan Papua
Mission Oriented Training merupakan bagian dari program periodik TNI AU yang tahun ini digelar pada 25 Oktober hingga 6 November 2025. MOT bertujuan untuk menjaga superioritas udara nasional di tengah dinamika keamanan regional yang semakin kompleks.
Dalam latihan kali ini, setidaknya terdapat 40 pesawat TNI AU yang dikerahkan meliputi pesawat tempur, pesawat angkut dan helikopter. Puluhan pesawat itu akan dilibatkan dalam berbagai skema misi yang berskala besar, seperti seperti Large Force Employment (LFE) dan Offensive Counter Air (OCA) melawan Integrated Air Defense System (IADS).
Selain pesawat, TNI AU turut mengerahkan elemen Ground Forward Air Control (GFAC) dan Radar Ground Controlled Interception (GCI) untuk memperkuat kolaborasi antarsatuan. (yas)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































