HANKAM

Meriam 20mm/Rheinmetall TNI AD Kini Mulai Diotomatisasi, Siap Hadapi Ancaman Udara

Meriam 20mm
Wadanpussenarhanud, Brigjen TNI I Made Kusuma Dhyana Graha meninjau langsung kesiapan prototipe dan keandalan sistem Meriam 20mm/Rheinmetall di Bandung, Jawa Barat. (Foto: Dok. Pussenarhanud)

Jakarta, IDM – Program modernisasi alutsista TNI Angkatan Darat terus bergerak maju. Guna menjawab ancaman udara yang makin kompleks, Pussenarhanud kini mulai menerapkan teknologi otomasi pada Meriam 20mm/Rheinmetall.

Hal ini dipastikan saat Wadanpussenarhanud, Brigjen TNI I Made Kusuma Dhyana Graha meninjau langsung kesiapan prototipe dan keandalan sistem Meriam 20mm/Rheinmetall di Bandung, Jawa Barat.

Baca Juga: TNI AU dan Angkatan Udara India Jajaki Peluang Kolaborasi Baru di Bidang Pertahanan

Dilansir dari keterangan Penpussenarhanud, Minggu (1/11), Made mengatakan peninjauan ini bertujuan untuk mengevaluasi secara menyeluruh capaian teknis, keandalan sistem, serta kesiapan integrasi teknologi otomasi pada Meriam 20mm/Rheinmetall.

"Langkah pengawasan berkala ini dilakukan guna memastikan seluruh proses pengembangan alutsista berjalan presisi, aman, dan sesuai dengan kriteria operasional satuan Arhanud TNI AD," kata Made.

Lebih lanjut terkait sistem otomatis ia menekankan pentingnya akurasi dan efisiensi dalam modernisasi alutsista ini, agar siap menjawab tantangan ancaman udara modern.

"Sinergi antara Pussenarhanud dan industri pertahanan dalam negeri seperti PT SAS AERO SISHAN diharapkan mampu mengakselerasi kemandirian teknologi pertahanan nasional," kata Made yang memastikan modernisasi menggandeng industri dalam negeri.

Untuk diketahui, Meriam 20mm/Rheinmetall (secara resmi dikenal sebagai Rheinmetall MK 20 Rh-202) adalah meriam otomatis berkaliber 20 mm yang dirancang dan diproduksi oleh perusahaan senjata asal Jerman, Rheinmetall. Senjata ini dikembangkan sejak tahun 1968 dan mulai digunakan secara luas pada akhir 1960-an untuk kebutuhan pertahanan udara dan kendaraan tempur.

Baca Juga: Masa Operasional Bertambah, Pesawat C-130 Hercules A-1317 Kembali Mengudara usai Jalani Modernisasi di GMF

Di TNI AD meriam ini dipakai sebagai senjata penangkis serangan udara (PSU) laras tunggal maupun laras ganda (twin gun) di satuan Arhanud (seperti Yonarhanud), serta dipasang pada kubah kendaraan tempur infanteri seperti Marder 1A3.

Spesifikasi utamanya yaitu kaliber: 20 mm × 139 mm, berat: Sekitar 75 kg (single feed) hingga 83 kg (dual feed). Memiliki kecepatan tembak 880 hingga 1.030 peluru per menit dan jarak tembak yang efektif adalah 1.600 meter untuk sasaran udara serta 2.500 meter untuk sasaran darat/permukaan.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.