Menhan Sjafrie Tekankan Kerja Sama Pertahanan AS tak Diarahkan untuk Bentuk Pangkalan Militer di Indonesia

Jakarta, IDM – Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan bahwa kerja sama pertahanan dengan Amerika Serikat tidak diarahkan untuk pembentukan pangkalan militer AS di Indonesia.
Hal itu ditekankan setelah Menhan Sjafrie menggelar courtesy call sekaligus round table dengan Wakil Menteri Perang AS untuk Kebijakan atau Under Secretary of War for Policy H.E. Elbridge Andrew Colby di Kementerian Pertahanan RI, Jakarta Pusat, Selasa (11/8).
Sjafrie menekankan, kerja sama pertahanan dengan AS difokuskan pada program-program yang memberikan manfaat bagi peningkatan kapasitas pertahanan nasional.
Baca Juga: Stafsus Menhan Ultimatum OPM Hentikan Kekerasan dan Kosongkan Wamena, Keluarkan Tiga Tuntutan
“Khususnya pendidikan, pelatihan, peningkatan kemampuan personel, serta penguatan interoperabilitas sesuai kebutuhan dan kepentingan Indonesia,” kata Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan RI Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait dalam keterangan pers.
Diketahui, AS menawarkan Indonesia dijadikan pusat maintenance, repair, and overhaul (MRO) pesawat angkut Hercules di kawasan Asia. Pemerintah kemudian menyiapkan Bandar Udara Kertajati, Majalengka, Jawa Barat.
Kepada Elbridge Colby, Sjafrie juga mengatakan bahwa salah satu fokus penting kerja sama ke depan adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) pertahanan melalui pendidikan dan pelatihan.

“Kesempatan bagi personel TNI untuk mengikuti pendidikan dan latihan di Amerika Serikat akan terus didorong dengan mengedepankan profesionalisme dan prinsip merit, sehingga personel yang memperoleh kesempatan merupakan mereka yang memiliki kompetensi dan memenuhi kualifikasi,” kata Rico.
Selain pengembangan SDM, kedua pihak membahas peningkatan latihan bersama, termasuk latihan gabungan pasukan khusus, serta kerja sama yang mendukung peningkatan kemampuan dan profesionalisme TNI.
Baca Juga: Wakil Menteri Perang AS Temui Menhan Sjafrie, Gelar “Round Table” Bahas Langkah Konkret
Menhan RI menyatakan, penguatan kerja sama pertahanan Indonesia-AS tetap ditempatkan dalam kerangka kepentingan nasional serta diarahkan untuk memperkuat kemampuan Indonesia agar semakin mandiri dalam menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional.
Sjafrie juga menekankan pentingnya penguatan kerja sama di bidang industri pertahanan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas dan kapabilitas pertahanan Indonesia.
“Kerja sama industri pertahanan diarahkan untuk mendukung pengembangan kemampuan nasional serta memperkuat kemandirian pertahanan Indonesia melalui kemitraan yang memberikan manfaat nyata bagi kedua negara,” tutur Rico.
Hankam

Deretan Senjata Tempur Denjaka untuk Operasi Khusus Aspek Laut
Di balik nama Detasemen Jalamangkara (Denjaka), tersimpan daya gempur yang ditopang oleh persenjataan lintas platform. Satuan elite penanggulangan teror aspek laut TNI AL ini mengandalkan beragam senapan dan pistol khusus dari berbagai negara untuk menuntaskan misi di tri-matra.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































