Menhan Sjafrie: Indonesia Siap Berperan Jadi Pasukan Perdamaian di Gaza

Jakarta, IDM – Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin menyatakan, Indonesia lewat TNI siap berperan menjadi pasukan perdamaian di Jalur Gaza dan sekitarnya.
Pernyataan itu disampaikan Menhan Sjafrie saat memberikan arahan kepada para kadet Palestina yang sedang belajar di Universitas Pertahanan RI.
“Indonesia tidak hanya berjuang secara kemanusiaan terhadap Palestina, tetapi Indonesia juga siap untuk berperan dalam rangka pasukan perdamaian apabila dibutuhkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di kawasan Gaza dan Palestina,” kata Sjafrie di kantor Kementerian Pertahanan RI, Jakarta Pusat, Jumat (26/9).
Baca Juga: Resmikan SPPG di Solo, Panglima TNI: Jalankan Program MBG dengan Profesional
Dalam kesempatan itu, Sjafrie juga memberikan pesan kepada para kadet agar semangat dalam mencapai cita-cita. Menhan RI berharap para kadet bisa menjadi pemimpin Palestina pada masa mendatang.
“Kita bangsa Indonesia akan terus membantu kalian di dalam memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Palestina,” tutur Sjafrie.
Sebelumnya, dalam pidato sidang PBB di Gedung Sekretariat PBB, New York, Amerika Serikat, Selasa (23/9), Presiden Prabowo Subianto menyatakan siap mengirimkan pasukan perdamaian di berbagai wilayah konflik, termasuk Palestina.
"Jika Dewan Keamanan PBB dan majelis besar ini memutuskan, Indonesia siap untuk mengerahkan 20.000 atau bahkan lebih putra-putri kami untuk membantu mengamankan perdamaian di Gaza atau di tempat lain," kata Prabowo.
Baca Juga: TNI akan Perkuat Pengawasan Terhadap Prajurit yang Pegang Senjata
"Di Ukraina, di Sudan, di Libya, di mana saja ketika perdamaian perlu ditegakkan, perdamaian perlu dijaga, kami siap, kami akan memikul tanggung jawab tersebut," tutur Presiden RI.
Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen (Mar) Freddy Ardianzah mengatakan, TNI pada prinsipnya selalu siap menindaklanjuti setiap kebijakan pemerintah, termasuk kemungkinan pengerahan pasukan di bawah bendera PBB.
“Saat ini, TNI memiliki pengalaman panjang dan rekam jejak baik dalam misi perdamaian PBB di berbagai negara konflik,” kata Freddy, Jumat (26/9).
Baca Juga: TNI akan Bangun Lima Kodam Baru di Tahun 2026, Ada Wilayah Yogyakarta dan NTT
Namun, pengerahan pasukan TNI ke wilayah konflik baru seperti Gaza harus melalui mekanisme PBB dan persetujuan dari pemerintah Indonesia.
“Prosesnya melibatkan keputusan politik negara, koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri, serta mandat resmi dari PBB. Jadi, intinya TNI siap kapan pun mendapat mandat, tetapi menunggu penugasan resmi sesuai prosedur internasional,” tutur Kapuspen TNI.
Saat ini, TNI sudah tergabung dalam berbagai pasukan perdamaian di bawah bendera PBB seperti United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) dan The United Nations Organization Stabilization Mission in the Democratic Republic of the Congo (Monusco). (nma)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































