Menhan Sjafrie Bertemu Wakil PM Australia, Bahas Implementasi Jakarta Treaty hingga Morotai

Jakarta, IDM – Menteri Pertahanan (Menhan) RI Sjafrie Sjamsoeddin menerima kunjungan Wakil Perdana Menteri (PM) sekaligus Menhan Australia Richard Marles di Kemhan, Jakarta pada Kamis (12/3).
Dalam pertemuan tertutup, keduanya membahas berbagai isu termasuk implementasi Jakarta Treaty, yang akan memperkuat kerja sama pertahanan kedua negara. Sjafrie menuturkan, aspek penting dalam memperkuat hubungan bilateral ini tidak hanya melalui latihan bersama. Kedekatan antarpersonal juga vital.
"Pertemuan bilateral yang intinya adalah mengakselerasi Jakarta Treaty, yaitu bagaimana implementasi pertahanan kita tingkatkan," ujarnya.
Baca Juga: Validasi Organisasi TNI: Kodam Jaya Satu-satunya Komando Daerah yang Dipimpin Jenderal Bintang Tiga
"Tadi kita bicara cukup lama. Kami merasa lebih dekat karena ternyata satu kenyataan bahwa hubungan negara dengan negara itu sangat tergantung pada hubungan personal dengan personal di dalam negara atau institusi itu," sambungnya.
Sjafrie dan Marles turut menyaksikan penandatangan implementasi Jakarta Treaty oleh para Dirjen Strahan dari kedua kementerian pertahanan.
"Jakarta Treaty yang Indonesia dan Australia ini mempunyai manfaat yang sangat besar. Jadi tentara nasional Indonesia itu tidak hanya menjadi tentaranya rakyat, tentara untuk berjuang, tapi bisa berkecimpung sebagai tentara internasional," ungkapnya.
Adapun, Jakarta Treaty atau Traktat Keamanan Bersama ditandatangani oleh Presiden RI Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese di Istana Merdeka pada Jumat (6/2). Penandatangan ini merupakan wujud komitmen mempererat kerja sama pertahanan, yang telah terjalin selama tiga dekade.
Baca Juga: Kembalinya Jabatan Kaster TNI Setelah Dihapus pada 2001, Pernah Diemban SBY dan Agus Widjojo
Selain implementasi Jakarta Treaty, kedua menhan kembali membahas rencana pengembangan Morotai di Maluku Utara, yang akan diaktifkan menjadi pangkalan untuk pusat latihan bersama. Morotai merupakan wilayah strategis dan pernah berperan penting dalam Perang Dunia II.
"Morotai ini dulu digunakan di dalam Perang Dunia II, sehingga dia punya infrastruktur pertahanan masih ada dan kita akan sama-sama memperbaiki dan kita sama-sama gunakan," imbuhnya.
Ia menuturkan, nantinya Morotai dapat digunakan untuk latihan gabungan internasional, tidak terbatas pada Australia atau satu negara. Langkah ini merupakan wujud membangun hubungan baik dengan negara-negara tetangga. "Kita tidak ingin negara kita itu menutup diri. Kita ingin negara kita itu open-minded dengan negara-negara lain," imbuhnya. (bp)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































