Menhan Prabowo Lakukan Koordinasi Terkait Nota Protes Tiongkok

Jakarta, IDM - Menteri Pertahanan (Menhan) RI Prabowo Subianto melakukan pertemuan bersama Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi di kantor Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Jakarta, Kamis (16/9).
Pertemuan ini dilakukan untuk menyikapi nota diplomatik Tiongkok terhadap protes pengeboran minyak dan gas alam di kawasan laut di lepas pantai Natuna Utara yang menjadi wilayah perairan Indonesia.
Nota protes yang dilayangkan oleh Tiongkok merupakan bentuk pelanggaran terhadap yurisdiksi teritorial wilayah laut Indonesia. Untuk itu, Menhan Prabowo dan Menlu Retno akan bersikap tegas dalam menanggapi nota protes yang diberikan oleh Tiongkok.
Menhan Prabowo pada Workshop Perumusan Konsep Awal Urban Warfare menegaskan bahwa nota diplomatik Tiongkok belum dijawab oleh pemerintah Indonesia. Karena hal tersebut, Menhan Prabowo mengajak Menlu Retno berkoordinasi dengan Kementerian terkait seperti Kemenkopolhukam, Kementerian KKP, dań Kemenko Kemaritiman dan Investasi untuk satu suara dalam menyikapi nota protes Tiongkok. (nhn/gno)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































