Mengenal Gabma, Pos Perbatasan Indonesia-Malaysia yang Diisi Prajurit TNI dan TDM

Jakarta, IDM - Baru-baru ini sebuah sinergisitas ditunjukkan Komandan satuan tugas Yonarmed 16/K, Mayor Arm Andreas Prabowo Putro dan Commanding Officer Regiment Askar Melayu Diraja 11 (CO RAMD 11) Leftenan Kolonel M. Fuad bin Nazri. Keduanya kompak dan akrab mengunjungi pos pengamanan Gabungan bersama (Gabma) di sepanjang perbatasan Indonesia-Malaysia Kalimantan Barat.
Dilansir dari keterangan Dispenad, Senin, (12/6) pos Gabma yang dikunjungi ini berada di sektor barat terdiri dari pos Gabma Biawak, pos Gabma Kandaie dan pos Gabma Serikin. Pos ini diisi sebagian Tentera Darat Malaysia (TDM) maupun sebagian Tentara Nasional Indonesia (TNI).

"Rombongan tersebut saling meninjau, mereka bergerak dari PLBN Aruk untuk melaksanakan inspeksi Pos Gabma yang berada di Malaysia," tulis keterangan Dispenad.
Baca Juga: KRI Frans Kaisiepo-368 Dapat Apresiasi dalam Pemeriksaan Waslakops Mabes TNI
Kunjungan ini diharapkan dapat meningkatkan moril dan motivasi dari setiap prajurit yang bertugas di perbatasan terutama di Pos Gabma sehingga mereka dapat memberikan yang terbaik selama Satgas berlangsung. (rr)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































