HANKAM

Menanti Gebrakan Prabowo di Sektor Pertahanan

Prabowo
Menteri Pertahanan Prabowo Subianto (kanan) bersama Vince Logsdon, Vice President, International Business Development for Boeing Defense, Space & Security and Global Services di Amerika Serikat usai penandatanganan kontrak pesawat tempur F-15EX. (Foto: Dok. Tim Media Prabowo Subianto)

Jakarta, IDM - Sampai hari ini, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto masih unggul dalam berbagai perhitungan cepat Pilpres 2024. Sementara, berdasarkan hasil dari real count Komisi Pemilihan Umum (KPU) per Senin (19/2) pukul 07.00 WIB, Prabowo meraih 58,31 persen atau 54.505.337 suara.

Sejauh ini, Prabowo dinilai berpeluang besar menjadi Presiden Indonesia ke-8 meski perhitungan resmi KPU masih menunggu waktu. Jika pada akhirnya Prabowo resmi dilantik menjadi presiden, pengamat pertahanan Tasha Imansyah berharap, eks Danjen Kopassus tersebut dapat memenuhi berbagai komitmen terkait penguatan sektor pertahanan, khususnya terkait kontrak-kontrak yang sudah berjalan.

“Yang diharapkan adalah komitmen Prabowo dalam mengeksekusi kontrak-kontrak yang sudah berjalan sebelumnya seperti kapal selam Scorpene, pesawat tempur F-15EX, kapal perang FREMM, dan lain-lain,” ujar Tasha saat dihubungi, Senin (19/2).

Baca Juga: Prabowo Dampingi Jokowi Resmikan RS TNI Terbesar di Indonesia

Menurutnya, kepastian dari kontrak-kontrak tersebut adalah memastikan bahwa pemerintah Indonesia terus berkomitmen terhadap industri pertahanan negara sahabat dengan menghormati kontrak yang telah ditandatangani.

Selain kontrak tersebut, lanjut Tasha, kenaikan anggaran pertahanan juga menjadi poin penting lainnya. Pasalnya, Prabowo berjanji akan menaikan anggaran pertahanan menjadi 2% jika dirinya berhasil menjadi presiden.

Kenaikan anggaran ini perlu menjadi perhatian dan dicermati, agar dapat sejalan dengan kualitas dan kesiapan personel.

“Untuk mencapai 2 persen ini memang tidak mudah. Namun Prabowo harus bisa mencari cara, salah satunya dengan meningkatkan pendapatan negara dan menjaga pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Baca Juga: KSAD: Terapkan Inovasi, TNI AD Akan Kerahkan Alat Inventaris Cegah Bencana di Tanah Air

Dengan peningkatan anggaran ini, diharapkan TNI dapat mengakuisisi alutsista yang memiliki daya gentar tinggi serta mampu melindungi seluruh wilayah air, udara, dan darat Indonesia.

“Serta dapat digunakan untuk operasi militer selain perang,” lanjut Tasha.
Di sisi lain, Prabowo juga perlu melanjutkan pembelian alutsista yang sudah mampu dibuat dalam negeri dalam rangka mempertahankan kemampuan industri pertahanan nasional/Defense Industrial Base seperti Anoa 3, Medium Tank Harimau.

“Pembelian alutsista dalam negeri secara multiyears dengan kepastian order setiap tahun, sehingga keberlangsungan industri pertahanan dalam negeri terjaga,” tutup Tasha. (nhn)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Prajurit Denjaka

Deretan Senjata Tempur Denjaka untuk Operasi Khusus Aspek Laut

Di balik nama Detasemen Jalamangkara (Denjaka), tersimpan daya gempur yang ditopang oleh persenjataan lintas platform. Satuan elite penanggulangan teror aspek laut TNI AL ini mengandalkan beragam senapan dan pistol khusus dari berbagai negara untuk menuntaskan misi di tri-matra.

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.