Matangkan Latihan Laut SGS 2026, TNI AL dan AS Kerahkan 4 Kapal Perang

Jakarta, IDM – TNI AL bersama Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) dan Penjaga Pantai Amerika Serikat (US Coast Guard) mengumpulkan para komandan kapal perang di Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (3/9). Pertemuan bertajuk pre-sail conference ini mematangkan skenario manuver laut menjelang puncak latihan gabungan bersama Super Garuda Shield 2026.
Pertemuan ini menjadi tahapan krusial untuk menyelaraskan pergerakan sebelum armada kapal perang bertolak menuju area latihan di laut lepas.
Rapat koordinasi ini berfokus pada pembahasan skenario operasi serta penyelarasan taktik maritim (maritime synchronization). Agenda ini mengunci kesiapsiagaan seluruh unsur agar memiliki pemahaman serupa terkait rute pelayaran dan materi latihan di laut.
Baca Juga: Kemhan Berguru Pengembangan Komcad dengan AS, Jalin Kemitraan dan Bahas Latihan Militer
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksma TNI Tunggul menegaskan koordinasi ini krusial demi menjamin keselamatan dan kelancaran operasi gabungan di laut.
"Melalui pre-sail conference ini, seluruh unsur menyelaraskan kesiapan operasi, prosedur komunikasi, keselamatan pelayaran, serta interoperabilitas untuk mendukung kelancaran pelaksanaan latgabma Super Garuda Shield 2026," ujar Tunggul, dikutip dari keterangan Dispenal, Jumat (4/9).
Dalam ajang kali ini, TNI AL mengerahkan dua kapal cepat rudal, yakni KRI Beladau-643 dan KRI Siwar-646. Perwakilan TNI AL Letkol Laut (P) Fanny Gunawan memimpin langsung pembahasan bersama komandan KRI Beladau dan KRI Siwar, serta para perwira operasi.
Sementara itu, pihak AS mengutus dua kapal patroli US Coast Guard, yaitu USCGC Charles Moulthrope-1141 dan USCGC Emlen Tunnell-1145, di bawah pimpinan komandan Alex Stachel.
Penyamaan persepsi ini memastikan setiap armada menguasai prosedur komunikasi antarkapal, standar keselamatan pelayaran, hingga interoperabilitas atau kemampuan kerja sama operasi gabungan saat mengarungi perairan latihan.
Pertemuan di Kemayoran ini menjadi bagian dari gelaran Super Garuda Shield 2026 yang resmi dibuka di Sesko TNI Bandung, Jawa Barat, pada Senin (31/8) lalu. Ajang tahunan yang berlangsung hingga 11 September ini melibatkan sekitar 5.000 personel dari 21 negara di kawasan Indo-Pasifik.
Baca Juga: TNI AD Wujudkan Mimpi Warga Punya Jembatan setelah 20 Tahun Menanti
Selain latihan maritim terkoordinasi, Super Garuda Shield 2026 merangkai berbagai materi seperti latihan staf gabungan (staffex), siber (cyberex), penanggulangan bencana (HADR), hingga latihan lapangan (FTX) di Baturaja, Lampung, dan Kalimantan Utara. Rangkaian acara bakal ditutup dengan agenda cultural day di Puslatpur Kodiklat TNI AD Baturaja, Sumatra Selatan.
Kedutaan Besar AS di Jakarta menyebutkan pengerahan unsur maritim ini digelar untuk memperkuat kerja sama di laut. Komandan Jenderal Divisi Infanteri ke-4 AS Mayjen Patrick Ellis menambahkan, latihan bersama ini membekali seluruh elemen agar siap merespons situasi krisis regional secara cepat dan terkoordinasi.
Pusat Penerangan TNI melengkapi, selain menguji kesiapan tempur, Super Garuda Shield 2026 juga menghadirkan bakti sosial kemanusiaan, mulai dari renovasi sekolah, pengerasan jalan, hingga pengobatan gratis bagi warga sekitar lokasi latihan.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































