HANKAM

Marak Kapal Nelayan Asing, TNI AL Kirim Empat KRI ke Natuna Utara

Guspurla Koarmada I.
Guspurla Koarmada I mengerahkan empat kapal perang (KRI) untuk berpatroli di Laut Natuna Utara, Sabtu (10/5) menindaklanjuti keresahan masyarakat sekitar terhadap kapal nelayan asing. (Foto: Dok. Koarmada I)

Jakarta, IDM – TNI AL mengirimkan empat kapal perang (KRI) untuk berpatroli di wilayah Laut Natuna Utara, Sabtu (10/5).

Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Koarmada I Kolonel Laut (P) Yoni Nova Kusumawan, mengungkapkan keempat kapal perang tersebut berada di bawah kendali operasi Gugus Tempur Laut (Guspurla) Koarmada I.

Baca Juga: Kunjungi Yordania, Menhan Sjafrie Bahas Penguatan Kapasitas Pertahanan

"Maraknya aktivitas kapal nelayan asing di Laut Natuna Utara, meresahkan masyarakat sekitar," ungkap Yoni dalam keterangannya, dikutip Senin (12/5).

Adapun keempat kapal perang yang dikirimkan untuk patroli di wilayah Laut Natuna Utara, meliputi KRI Untung Suropati-372, KRI Teuku Umar-385, KRI Sultan Nuku-373, dan KRI Silea-858.

"Sejumlah unsur melaksanakan patroli di perairan Pulau Anambas," katanya.

Guspurla Koarmada I.
(Foto: Dok. Koarmada I)

"Patroli ini dilakukan sebagai upaya menjaga kedaulatan wilayah laut Indonesia dan melindungi aktivitas nelayan lokal dari ancaman kapal asing," imbuhnya.

Dilansir dari kompas.id, Indonesia Ocean Justice Initiative (IOJI) membeberkan penangkapan ikan ilegal oleh kapal ikan Vietnam di Laut Natuna Utara melonjak signifikan pada April-Mei dan Agustus-September setiap tahun. Terdapat 76 kapal ikan Vietnam di Laut Natuna Utara pada April-Mei 2021, 51 kapal (April-Mei 2022), 11 kapal (April-Mei 2023), 47 kapal (April-Mei 2024), dan 74 kapal (per 26 April 2025).

Baca Juga: Dukung Program Pemerintah, Lanud Husein Sastranegara Distribusikan 219.000 Paket MBG

Pada 11 April 2025, IOJI mendeteksi intrusi 74 kapal ikan Vietnam di Laut Natuna Utara. Mereka dinilai semakin berani karena lokasinya yang semakin dekat dengan pulau terluar, yakni Pulau Seluan, Natuna. Jarak mereka hanya sekitar 72 kilometer atau 39 mil laut dari Pulau Seluan. Salah satu jalur keluar-masuk kapal Vietnam ialah perbatasan Indonesia-Malaysia di barat Natuna dan utara Kepulauan Anambas.

Berdasarkan siaran pers Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) potensi kerugian negara dari aktivitas penangkapan ikan ilegal oleh dua kapal ikan Vietnam yang ditangkap di Laut Natuna Utara pada 14 April mencapai Rp152,8 miliar. Artinya, potensi kerugian negara atas beroperasinya 74 kapal ikan Vietnam di Laut Natuna Utara selama April 2025 menembus Rp5,6 triliun. (at)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.