Latma Wirrajaya Ausindo 2024, TNI AD dan Australia Kolaborasi dengan Tank M113 A1

Jakarta, IDM – Kolaborasi antara TNI AD yang diwakili Yonif 412/BES/6/2 Kostrad dengan Australian Defence Force (ADF) di Latma Wirrajaya Ausindo 2024 resmi berakhir.
Pada latihan puncak, kedua pasukan tampil apik dengan pelaksanaan simulasi tempur yang melibatkan berbagai unsur satuan tempur kedua angkatan darat. Latihan ini memadukan teknik dan taktik serangan darat, dengan mengguankan alutsista Tank angkut personil M113 A1.
Baca Juga: 4 Kapal Perang Satuan Eskorta Resmi Berganti Komandan
"Pasukan gabungan dari Yonif 412/BES/6/2 Kostrad dan ADF berhasil menuntaskan misi dengan sempurna, Pantai Ambal dipilih sebagai lokasi Latihan karena memiliki karakteristik medan yang menantang, sehingga mampu menguji kemampuan tempur yang dimiliki," tulisan keterangan dikutip dari postingan aku resmi Penerangan Kostrad, @penkostrad, Selasa, (24/9).

Danyonif 412/BES/6/2 Kostrad Letkol Inf Syahrul Ramadhan saat menutup latihan mengatakan latihan ini dilaksanakan selama dua minggu dan berhasil mempererat kerja sama militer kedua negara melalui berbagai materi latihan yang menunjukkan sinergi dalam operasi militer modern.
Baca Juga: TNI AD Akan Tampilkan Sejumlah Alutsista di Parade HUT ke-79 TNI, Ini Rinciannya
"Dalam pelaksanaan Latma ini, dilaksanakan berbagai materi taktis yg meliputi Pertempuran Jarak dekat (PJD), Lat Mekanis menggunakan Tank M113, pelatihan Tactical Combat Casualty Care (TCCC) dan Latihan Puncak terintegrasi. Latihan tersebut dirancang untuk meningkatkan interoperabilitas antara kedua angkatan bersenjata, mempersiapkan pasukan dalam menghadapi situasi tempur yang kompleks, serta menekankan pentingnya kerjasama dan kebersamaan," kata Syahrul.

Sementara itu, Kasdivif 2 Kostrad, Brigjen TNI Primadi Saiful Sulun saat meninjau Latihan di Pantai Ambal Kebumen, menyatakan bahwa Latma Wirrajaya Ausindo 2024 berjalan sukses dan mencapai tujuan yang diharapkan.
Baca Juga: Pasukan Defile Angkatan Darat Akan Libatkan Kowad, Kopassus Hingga Kostrad di HUT ke-79 TNI
“Latihan ini bukan hanya bertujuan meningkatkan kemampuan tempur prajurit, tetapi juga memperkuat solidaritas dan hubungan persahabatan antara Indonesia dan Australia," ujarnya.
Dari pihak Australia yg diwakilkan oleh Pangdiv 1 Australia, Mayor Jenderal Ash Collingburn AM, DSM, menyatakan rasa puasnya terhadap hasil Latihan ini, yang sangat kompleks karena melibatkan Angkatan Udara dan menekankan pentingnya hubungan strategis antara Indonesia dan Australia di bidang militer.
"Latihan ini mencerminkan kepercayaan tinggi antara kedua negara dan menjadi landasan bagi kerja sama militer yang lebih erat di masa depan,” tambahnya.
Baca Juga: TNI AD Akan Libatkan 56.900 Prajurit pada HUT ke-79 TNI di Monas
Dengan berakhirnya Latma Wirrajaya Ausindo 2024, kedua militer berharap bahwa hasil latihan ini dapat diterapkan dalam operasi-operasi gabungan di masa depan, serta semakin memperkokoh hubungan diplomatik dan militer antara Indonesia dan Australia.
Latihan ini juga diharapkan dapat menjadi model bagi latihan-latihan bersama lainnya di kawasan Indo-Pasifik, yang bertujuan menciptakan stabilitas regional dan meningkatkan kesiapan dalam menghadapi ancaman global. (rr)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































