HANKAM

Lagi-lagi Nelayan Temukan Drone Asing, Ini Daftar 'Penyusupan' Laut RI Sejak 2019

Personel TNI AL
Personel TNI AL mengevakuasi drone bawah laut temuan nelayan Gili Trawangan ke Posal Gili Air, NTB, Senin (6/4). (Foto: Dok. X/LembagaKERIS)

Jakarta, IDM – Penemuan perangkat bawah laut tanpa awak atau Autonomous Underwater Vehicle (AUV) di Selat Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), kembali menghentak publik. Insiden ini menambah panjang daftar "kecolongan" sistem keamanan laut Indonesia di jalur-jalur strategis.

Bukan kali ini saja perairan Indonesia "disusupi" robot pengintai asing. Ironisnya, hampir semua temuan tersebut berawal dari mata jeli nelayan, bukan hasil deteksi dini sensor canggih milik otoritas keamanan laut.

Berikut adalah linimasa atau timeline rentetan penemuan robot bawah laut asing di Indonesia yang dirangkum:

  1. Selat Lombok, NTB (April 2026)
    Robot bawah air terbaru ditemukan oleh nelayan bernama Ariyanto (28) di perairan utara Gili Trawangan, Kabupaten Lombok Utara. Lokasi ini merupakan jalur vital Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II yang memiliki karakteristik laut dalam. Benda ini diduga kuat merupakan produk China Shipbuilding Industry Corporation (CSIC) yang membawa sensor pemeta arus laut.

    Baca Juga: Jalur Strategis Selat Lombok ‘Disusupi’ Perangkat Asing, Ini Kata TNI AL

    Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama Tunggul menegaskan pihak militer sedang membedah data di dalam robot tersebut.

    "TNI AL melalui tim ahli akan melakukan pemeriksaan mendalam atau identifikasi teknis terhadap perangkat tersebut untuk mengetahui asal-usul, fungsi, maupun data-data yang terkandung di dalamnya," ujar Tunggul saat dihubungi Indonesia Defense Magazine, Jakarta, Rabu (8/4).

    1. Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan (Desember 2020)
      Dunia maritim Indonesia geger saat seorang nelayan bernama Saeruddin menemukan seaglider (pesawat luncur bawah laut) di perairan Selayar. Benda ini memiliki sayap dan antena panjang, yang kemudian diidentifikasi sebagai Sea Wing (Haiyi).

    Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) saat itu, Laksamana Yudo Margono, menjelaskan alat tersebut mampu masuk ke kedalaman 2.000 meter untuk mengambil data hidro-oseanografi.

    Baca Juga: Sertijab Komandan KRI dr Soeharso-990, Dansatban Ingatkan Perkembangan Lingstra yang Makin Kompleks

    "Alat ini bisa digunakan untuk kepentingan industri maupun militer, karena mampu memetakan kondisi fisik laut secara mendetail," kata Yudo saat konferensi pers di Jakarta (4/1).

    1. Perairan Kepulauan Riau (Januari 2021)
      Tak berselang lama dari temuan Selayar, sebuah wahana bawah air tanpa awak atau Unmanned Underwater Vehicles (UUV) kembali ditemukan mengapung di Kepulauan Riau. Lokasinya yang sangat dekat dengan wilayah konflik Laut Natuna Utara memicu kekhawatiran adanya misi mata-mata maritim asing.

    TNI AL mengamankan benda tersebut ke Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) IV Tanjungpinang. Para pengamat pertahanan menilai penemuan beruntun ini menunjukkan, laut Indonesia sedang dipetakan secara masif untuk jalur navigasi kapal perang asing.

    Baca Juga: Identifikasi UUV Asing di Selat Lombok, TNI AL Fokus Cari Data Navigasi

    1. Perairan Masalembo, Jawa Timur (Januari 2020)
      Nelayan di kepulauan Masalembo menemukan benda logam raksasa yang dilengkapi berbagai sensor elektronik. Wilayah Masalembo sendiri dikenal sebagai titik pertemuan arus yang sangat kompleks antara Laut Jawa dan Laut Sulawesi. Meskipun sempat dianggap puing pesawat, TNI AL memastikan benda tersebut adalah instrumen penelitian bawah laut asing.
    2. Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan (Maret 2019)
      Selayar pertama kali mencuri perhatian saat nelayan bernama Andi Arisandi menemukan robot pengintai berwarna oranye dengan tulisan Mandarin. Benda ini merupakan jenis wahana bawah laut yang dikendalikan dari jarak jauh untuk memantau kondisi bawah air.

    Kala itu, penemuan ini memancing reaksi keras dari parlemen. Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PKS, Sukamta, meminta pemerintah memperkuat alat deteksi dini bawah laut.

    "Ini adalah ancaman terhadap kedaulatan, kita tidak boleh membiarkan wilayah laut kita dipetakan pihak asing secara bebas," pungkas Sukamta menanggapi kasus tahun 2019 tersebut. (at)

    PERTAHANAN NASIONAL

    Hankam

    LIHAT SEMUA
    Helikopter Mi 17V5

    Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

    TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

    INOVASI & ALUTSISTA

    Teknologi

    LIHAT SEMUA
    Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

    Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

    Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

    VISUAL DISPATCH

    In Frame

    LIHAT SEMUA
    ARSIP & SEJARAH

    History

    LIHAT SEMUA
    Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

    Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

    Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.