KSAU Tinjau Uji Coba Operasi Modifikasi Cuaca Berbasis Flare di Lanud BNY

Jakarta, IDM – Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI M. Tonny Harjono meninjau uji coba Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) berbasis flare atau suar di Lanud Pangeran M. Bun Yamin (Lanud BNY), Lampung, Selasa (26/8).
Peninjauan ini menjadi wujud nyata atas komitmen TNI Angkatan Udara (TNI AU) untuk melindungi masyarakat, menjaga kelestarian lingkungan, serta mendukung stabilitas kawasan dari ancaman kabut asap.
KSAU menegaskan bahwa tugas TNI AU tidak hanya terbatas pada tugas pertahanan negara, tetapi juga mencakup kepentingan nasional yang lebih luas.
Baca Juga: Pemprov DKI, TNI dan Polri Kolaborasi Cegah Macet Jakarta
“Operasi Modifikasi Cuaca merupakan upaya strategis TNI Angkatan Udara bersama kementerian dan lembaga terkait dalam mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yang berpotensi mengganggu keselamatan masyarakat, merusak ekosistem, serta menimbulkan kabut asap lintas batas,” tulis TNI AU melalui unggahan Instagram @militer.udara, Rabu (27/8).
Pada uji coba kali ini, OMC menggunakan pesawat Caravan PK-SNL. Direktur Tata Kelola Modifikasi Cuaca BMKG Edison Kurniawan menjelaskan bahwa inovasi penggunaan suar untuk OMC dirancang untuk meningkatkan efektivitas penyemaian awan dengan metode yang lebih efisien, aman, dan ramah lingkungan.

“Melalui uji coba ini diharapkan teknologi flare berbasis produksi dalam negeri dapat menjadi solusi yang efektif, efisien, dan berkelanjutan dalam berbagai keperluan, mulai dari mitigasi bencana, peningkatan cadangan air, hingga mendukung sektor pertanian,” ungkap Edison, dikutip dari laman bmkg.go.id. Jakarta, IDM -- Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI M. Tonny Harjono meninjau uji coba Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) berbasis flare atau suar di Lanud Pangeran M. Bun Yamin (Lanud BNY), Lampung, Selasa (26/8).
Peninjauan ini menjadi wujud nyata atas komitmen TNI Angkatan Udara (TNI AU) untuk melindungi masyarakat, menjaga kelestarian lingkungan, serta mendukung stabilitas kawasan dari ancaman kabut asap.
KSAU menegaskan bahwa tugas TNI AU tidak hanya terbatas pada tugas pertahanan negara, tetapi juga mencakup kepentingan nasional yang lebih luas.
Baca Juga: Terima Kunjungan VCG, Bakamla Lanjutkan Pembahasan RUU ZEE RI-Vietnam
“Operasi Modifikasi Cuaca merupakan upaya strategis TNI Angkatan Udara bersama kementerian dan lembaga terkait dalam mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yang berpotensi mengganggu keselamatan masyarakat, merusak ekosistem, serta menimbulkan kabut asap lintas batas,” tulis TNI AU melalui unggahan Instagram @militer.udara, Rabu (27/8).
Pada uji coba kali ini, OMC menggunakan pesawat Caravan PK-SNL. Direktur Tata Kelola Modifikasi Cuaca BMKG Edison Kurniawan menjelaskan bahwa inovasi penggunaan suar untuk OMC dirancang untuk meningkatkan efektivitas penyemaian awan dengan metode yang lebih efisien, aman, dan ramah lingkungan.
“Melalui uji coba ini diharapkan teknologi flare berbasis produksi dalam negeri dapat menjadi solusi yang efektif, efisien, dan berkelanjutan dalam berbagai keperluan, mulai dari mitigasi bencana, peningkatan cadangan air, hingga mendukung sektor pertanian,” ungkap Edison, dikutip dari laman bmkg.go.id. (yas)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































