KSAL Tegaskan Penguasaan AI Bukan Pilihan tapi Kebutuhan Militer

Jakarta, IDM – Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali menyatakan, penguasaan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) bukan lagi sekadar pilihan bagi militer. Pimpinan tertinggi matra laut tersebut menilai teknologi pintar ini sudah menjadi kebutuhan mendesak demi memenangkan peperangan maritim modern.
Pernyataan keras itu mengemuka saat dirinya memberikan taklimat utama (keynote speech) dalam seminar internasional Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL) 2026. Forum ilmiah tersebut berlangsung di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (4/6).
Ali menjelaskan, kehadiran kecerdasan buatan telah mengubah lanskap pertempuran di laut secara drastis. TNI AL dituntut bergerak cepat karena pola serangan musuh saat ini semakin sulit diprediksi dengan metode konvensional.
Baca Juga: Bicara di Seskoau, KSAL Tegaskan Sinergi Antarmatra jadi Kunci Pertahanan
Ali menilai perkembangan teknologi digital menuntut pergeseran taktik di lapangan. Oleh sebab itu, adopsi peranti cerdas ini memegang peran krusial dalam memperkuat pertahanan laut yurisdiksi nasional.
"Penguasaan Artificial Intelligence dan teknologi digital merupakan kebutuhan strategis bagi TNI AL untuk membangun keunggulan operasional," ujar Ali, dikutip dari keterangan STTAL, Jumat (5/6).
Menurut Ali, integrasi sistem digital mutlak diperlukan guna mengendus dan mematahkan berbagai potensi sabotase dari luar. Langkah ini menjadi benteng baru armada dalam menjaga wilayah teritorial.
"Serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman asimetris (pola perang tak seimbang menggunakan cara-cara tidak konvensional), serta menjaga kedaulatan maritim Indonesia di masa depan,” tegas Ali.
Baca Juga: Kemhan Targetkan Bentuk Dua Batalion Komcad di Tiap Kabupaten/Kota
Meski gencar memodernisasi persenjataan lewat teknologi mutlak, Ali mengingatkan, kunci utama dari transformasi digital ini tetap berada di tangan manusia. TNI AL tidak akan bisa melompat maju jika kualitas para prajuritnya tertinggal oleh kecepatan teknologi.
Oleh sebab itu, pimpinan TNI AL kini berfokus mendongkrak kompetensi, daya kreativitas, serta kemampuan adaptasi personel di jajaran armada. Langkah ini bertujuan agar seluruh pengawak alutsista mampu mengoperasikan sistem otonom digital secara maksimal.
"Peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai faktor utama dalam mendukung transformasi digital TNI AL. Penguasaan teknologi harus diimbangi dengan kompetensi, kreativitas, serta kemampuan adaptasi personel terhadap perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat," pungkasnya.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































