HANKAM

KSAL Pastikan Kajian Kapal Induk Garibaldi Berjalan Aktif: Mudah-Mudahan Segera Bisa Akuisisi

aircraft
Kapal induk atau aircraft carrier milik Italia, Giuseppe Garibaldi. (Foto: Dok. Seaforces)

Jakarta, IDM – Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali memastikan rencana akuisisi kapal induk Garibaldi terus dibahas secara aktif oleh internal TNI AL.

“Kapal induk ini sekarang masih kita dalami, mudah-mudahan bisa kita segera akuisisi. Dan nantinya kapal induk ini bermanfaat bagi operasi militer perang maupun operasi militer selain perang,” ujar Ali, di Bogor, Sabtu (18/10).

Ali menjelaskan, selain fungsi tempur, Garibaldi akan dioptimalkan untuk misi kemanusiaan dan distribusi bantuan ke wilayah pulau-pulau terluar.

Baca Juga: Dankodiklatau Pimpin Upacara Wingday Penerbang TNI AU Lulusan Program ALP Amerika Serikat

“Dalam keadaan damai, kapal induk ini bisa digunakan untuk membantu masyarakat, terutama di daerah pulau-pulau terpencil terluar terdepan. Nanti juga kita tempatkan helikopter-helikopter yang bisa membantu mendrop bantuan-bantuan logistik,” tambahnya.

Sikap Kementerian Pertahanan (Kemhan) pun sejalan dengan pernyataan Ali. Sebelumnya, Kepala Biro Humas Setjen Kemhan Brigjen Frega Wenas Inkiriwang juga menegaskan keputusan akuisisi kapal induk Garibaldi menunggu kajian operasional dari TNI AL.

“Kami masih menunggu pengkajian dari TNI AL untuk plus minusnya, termasuk juga beberapa faktor lainnya,” kata Frega, di Jakarta, Kamis (18/9) lalu.

Baca Juga: Danyon Zipur 10 Kostrad Resmi Berganti, Tongkat Estafet Kepemimpinan Diserahkan di Pasuruan

Jika akuisisi Garibaldi terealisasi, Indonesia akan menyusul sejumlah negara Asia yang telah lebih dulu memiliki kapal induk.

Thailand menjadi negara pertama di Asia Tenggara sejak 1997 dengan kapal induk ringan HTMS Chakri Naruebet. Di kawasan yang lebih luas, India saat ini mengoperasikan dua kapal induk, INS Vikramaditya dan INS Vikrant, sementara Turki telah memposisikan TCG Anadolu sebagai kapal induk drone pertama di dunia. Korea Selatan pun tengah membangun kapal induk proyek CVX.

Masuknya Garibaldi ke jajaran TNI AL akan menempatkan Indonesia dalam klub maritim strategis tersebut, namun dengan karakter berbeda, yakni fokus pada peran ganda, militer sekaligus kemanusiaan.

Baca Juga: Lanud Roesmin Nurjadin Gelar Project Management Review Jelang Hadirnya Pesawat Tempur Rafale

Spesifikasi Garibaldi

Kapal induk ringan berbobot sekitar 13 ribu ton ini memiliki panjang 180 meter dan dirancang untuk membawa hingga belasan helikopter atau pesawat jenis lepas landas pendek.

Garibaldi menggunakan empat mesin turbin gas dengan kecepatan maksimum sekitar 30 knot, jarak jelajah sekitar 7.000 mil laut, dan mampu diawaki lebih dari 500 personel, ditambah kru penerbang dan Marinir jika dibutuhkan untuk operasi amfibi terbatas. (at)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.