KSAL di Malaysia: Laut Asean Tak Bisa Dijaga Sendiri, Perlu Koordinasi Kolektif

Jakarta, IDM – Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali menegaskan stabilitas maritim kawasan Asia Tenggara tidak bisa dijaga secara sendiri-sendiri. Hal ini ia sampaikan dalam pertemuan para kepala staf angkatan laut negara anggota Asean (ANCM) ke-19 di Penang, Malaysia, Selasa (19/8).
"Keamanan kawasan tidak bisa dijaga sendiri, dibutuhkan kerja sama nyata agar stabilitas maritim tetap terpelihara," tegas Ali, dikutip dari laman TNI AL, Rabu (20/8).
Ia menekankan komitmen TNI AL untuk terus memperkuat koordinasi dengan angkatan laut negara-negara Asean, baik melalui latihan bersama, patroli terkoordinasi, maupun program pertukaran pengalaman.
Baca Juga: Prajurit Pasmar 1 Marinir Dijatuhi Sanksi Akibat Judi Online
Adapun dalam agenda ANCM ke-19 ini, para kepala staf angkatan laut negara di Asia Tenggara mendiskusikan peningkatan sinergi melalui inovasi dan teknologi untuk memperkuat keamanan laut Asean.
Berbagai agenda strategis turut dibahas dalam ANCM ke-19, seperti arahan apresiasi keamanan maritim regional, program interaksi perwira muda angkatan laut Asean (ANYOI) 2025, pertukaran pengalaman pelatihan angkatan laut Asean (ANTEEP) 2025.
Selain itu, forum juga meninjau peta jalan ANCM 2024-2032 dan membahas ASEAN Plus Cadet Sail 2025 sebagai bagian dari upaya memperkuat jaringan kerja sama dan solidaritas antar-angkatan laut di Asia Tenggara.
Baca Juga: TNI Mutasi dan Rotasi Besar-besaran Jabatan 414 Pati, Kapuspen Ungkap Alasannya
Sekilas tentang ANCM
ANCM pertama kali digelar pada 2001 di Malaysia, dengan tujuan menjadi wadah dialog dan koordinasi antar-pimpinan angkatan laut negara anggota Asean. Sejak itu, forum ini berkembang menjadi sarana penting untuk membangun kepercayaan, mendorong keterbukaan, serta merumuskan program konkret kerja sama maritim regional.
Rekam jejak TNI AL di ANCM
Indonesia, melalui TNI AL, aktif sejak awal penyelenggaraan ANCM. TNI AL tercatat pernah menjadi tuan rumah ANCM ke-6 pada 2009 di Bali dan ANCM ke-14 pada 2018 di Surabaya. Dalam setiap kesempatan, Indonesia mendorong penguatan kerja sama konkret, mulai dari patroli bersama di kawasan perbatasan hingga program latihan multilateral yang kini berkembang menjadi Multilateral Naval Exercise Komodo (MNEK).
Keterlibatan aktif TNI AL di ANCM sejalan dengan visi Indonesia sebagai poros maritim dunia, sekaligus menegaskan posisi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di Asean yang memiliki peran sentral dalam menjaga keamanan jalur laut strategis di kawasan. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































