KSAL Boyong Para Mantan Pimpinan TNI AL, Rumuskan Doktrin Operasi KRI Sriwijaya

Jakarta, IDM – Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali mengumpulkan sejumlah mantan pimpinan TNI AL dan pakar militer di atas geladak KRI Sriwijaya-100, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (29/9). Pertemuan strategis ini berlangsung tepat usai upacara peresmian kapal perang tersebut.
Pimpinan TNI AL sengaja menggelar diskusi di atas kapal untuk merumuskan dokumen penggunaan tempur KRI Sriwijaya-100 secara komprehensif. Diskusi ini menjadi pijakan utama untuk menentukan pola pengoperasian kapal perang anyar tersebut dalam berbagai skenario penugasan.
Sejumlah tokoh penting maritim hadir memberikan masukan, seperti mantan KSAL Laksamana TNI (Purn) Marsetio dan Laksamana TNI (Purn) Ade Supandi, serta jajaran purnawirawan perwira tinggi lainnya. Kehadiran para purnawirawan bintang empat ini bertujuan mematangkan penggunaan kapal, baik untuk skenario pertahanan maupun penanggulangan krisis nonmiliter.
Baca Juga: Rentetan Kekerasan oleh OPM, Panglima TNI: Penyelesaian Masalah Papua Harus Kolaborasi
Para pakar membedah dua skenario penggunaan kapal, yaitu Operasi Militer Perang (OMP) dan Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Skema OMP mengatur pengerahan kapal dalam pertempuran laut terbuka untuk menjaga kedaulatan negara, sementara skema OMSP mencakup misi patroli keamanan maritim, penanggulangan bencana alam, hingga aksi kemanusiaan.
Kepala Pusat Pengkajian Maritim (Kapusjianmar) Seskoal Laksamana Pertama TNI Salim menilai pembahasan ini sangat krusial bagi kesiapan operasional kapal di lapangan.
"Pembahasan penggunaan tempur KRI Sriwijaya-100 memperkuat landasan konseptual dan operasional dalam menghadapi dinamika lingkungan strategis, serta mendukung kesiapan TNI AL melaksanakan tugas pertahanan negara," kata Salim, dikutip dari keterangan Pusjianmar.
Salim menambahkan, perumusan doktrin ini mempermudah keterpaduan antarunsur militer saat menjalankan tugas.
Baca Juga: Bahas Keamanan Maritim, Jenderal Wanita Australia Boyong 25 Perwira ke Seskoal
"Melalui forum ini, terbangun kesamaan persepsi lintas matra terkait penggunaan KRI Sriwijaya-100 secara efektif dan terukur, sekaligus memperkuat interoperabilitas serta kesiapsiagaan operasional TNI," ujar Salim.
KRI Sriwijaya-100 merupakan kapal perang bekas yang didatangkan langsung dari Italia. Panglima Jenderal TNI Agus Subiyanto meresmikan kapal eks-Giuseppe Garibaldi ini sebagai kapal induk pertama Indonesia pada Kamis (24/9).
Meskipun tiba dalam kondisi siap berlayar, TNI AL bakal merombak teknis (retrofit) peralatan komunikasi kapal secara bertahap. Pihak TNI AL mengganti sistem perangkat komunikasi bawaan berstandar NATO menjadi versi lokal buatan Indonesia agar kapal dapat langsung terhubung dengan jaringan komunikasi pertahanan nasional.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































