KSAD Jerman Kunjungi Markas Kopassus, Ada Apa?

Jakarta, IDM – Kepala Staf Angkatan Darat Jerman (Chief of the German Army) Lieutenant General Alfons Mais mengunjungi Markas Komando Kopassus, Cijantung.
Kedatangannya disambut langsung oleh Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Danjen Kopassus) Mayjen TNI Djon Afriandi, Senin (21/7).
Baca Juga: Bakamla RI Siagakan Dua Kapal Selama Proses Evakuasi Korban Kebakaran KM Barcelona
Dilansir dari keterangan Penkopassus, kedatangan Alfons bertujuan untuk memperkuat persahabatan angkatan bersenjata kedua negara.
"Kunjungan kehormatan ini merupakan momentum positif dan signifikan dalam upaya memperkuat persahabatan serta meningkatkan kolaborasi antara Indonesia dan Jerman, khususnya di bidang militer," bunyi keterangan Penkopassus.
Baca Juga: TNI AL: Eks Marinir di Rusia Sudah Dipecat dan Dihukum 1 Tahun
Jerman dan Kopassus memiliki hubungan yang cukup erat, terutama dalam hal pelatihan dan pembentukan unit khusus. Misalnya Sat-81/Gultor Kopassus, unit anti-teror di Kopassus, dibentuk dengan bimbingan dari GSG-9, unit anti-teror elit kepolisian Federal Jerman. (rr)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































