Kronologi TNI Turunkan Bendera Bulan Bintang di Aceh dan Respons KSAD

Jakarta, IDM – TNI dan Polri menurunkan Bendera Bulan Bintang di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (15/8). Momen penurunan ini mengakibatkan kericuhan.
Dilansir dari keterangan Penkodam Iskandar Muda (IM), Senin (17/8), kronologi awalnya adalah Kegiatan Doa Tolak Bala dan Zikir Akbar yang diikuti masyarakat dari berbagai kabupaten kota di Provinsi Aceh. Rangkaian kegiatan juga diisi penyampaian pesan damai dari sejumlah tokoh agama. Pesan yang disampaikan pada prinsipnya mengajak masyarakat untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT, menjaga persaudaraan, memperkuat kepedulian sosial, serta bersama-sama menjaga kedamaian dan ketenteraman Aceh.
Namun, suasana berubah menjadi ricuh ketika massa terprovokasi dan ada yang mengibarkan Bendera Bulan Bintang.
Baca Juga: Menhan Sjafrie Dampingi Presiden Prabowo dalam Apel Kehormatan dan Renungan Suci di TMPNU Kalibata
Aparat keamanan TNI dan Polri melakukan pendekatan persuasif dan memberikan imbauan kepada massa agar tidak mengibarkan Bendera Bintang Bulan serta tetap menjaga ketertiban.
"Namun massa menolak, sehingga terjadi aksi saling dorong antara sebagian massa dengan aparat keamanan. Situasi kemudian semakin memanas setelah sejumlah orang melakukan pelemparan batu dan benda keras ke arah personel TNI dan Polri," tulis keterangan Kodam IM.
Kericuhan tersebut juga berdampak terhadap sejumlah kendaraan yang berada di sekitar lokasi. Beberapa kendaraan dilaporkan mengalami kerusakan akibat terkena lemparan, bahkan terdapat sepeda motor dinas TNI yang dibakar oleh massa serta mengganggu warga pengguna jalan. Sehingga memaksa aparat keamanan mengambil langkah tegas dan terukur untuk membubarkan massa yang sudah anarkis.
Setelah memecah konsentrasi massa, aparat TNI menurunkan Bendera Bulan Bintang yang dikibarkan di halaman Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga ketertiban.
Baca Juga: Pengarahan KSAU kepada Tim Demo Udara TNI AU: Jalankan Tugas dengan Penuh Tanggung Jawab
Respons KSAD
Sementara itu, saat Apel Kemerdekan di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Senin (17/8), Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak memastikan pihaknya tidak menambah personel untuk pengamanan Aceh usai kericuhan.
Namun Maruli tetap menyiapkan langkah pengamanan dan akan mendukung kepolisian dalam menjaga situasi di Aceh.
Lebih lanjut untuk kondisi di Aceh sejauh ini kata Maruli masih terkendali. Ia juga menyebut telah mengecek kondisi tersebut hingga pagi hari bersama Pangdam.
Baca Juga: Menhan Sjafrie: Kehormatan adalah Identitas Pejuang
"Kondisi Aceh sudah aman. Enggak perlu penambahan pengamanan. Saya sudah tanya sampai tadi pagi, saya cek, Pangdam tidak perlu. Kami tetap dukung tugas kepolisian untuk bisa mengamankan wilayah," kata Maruli.
Maruli mengatakan TNI akan membantu kepolisian dalam penegakan hukum apabila diperlukan. Ia menyebut langkah tersebut menjadi bagian dari pengamanan situasi di Aceh.
"Kami mendukung kepolisian untuk bisa menegakkan hukum," ucap Maruli.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































