Kronologi TNI AL Tangkap Kapal Ikan Thailand, Bawa 1,9 Ton Narkoba

Jakarta, IDM – Prajurit Pangkalan TNI AL (Lanal) Tanjung Balai Karimun menangkap kapal ikan berbendera Thailand yang membawa sekitar 1,9 ton narkoba, di Selat Durian, Kepulauan Riau, Selasa (13/5).
Pangkoarmada I Laksamana Muda Fauzi dalam konferensi pers yang digelar di Batam, Jumat (16/5) menjelaskan kapal ikan dari Thailand tersebut mencoba memasuki perairan Indonesia untuk menyelundupkan narkoba jenis sabu seberat 705 kg dan 1.200 kg kokain.
"Penangkapan bermula dari informasi dari intelijen, pada 13 Mei, pukul 01.00 WIB dini hari, di Selat Durian, Kepulauan Riau Ketika unsur patroli tim Fleet One Quick Response (F1QR) Lanal Tanjung Balai Karimun mendeteksi kontak kapal ikan asing yang berlayar menuju perairan Indonesia," ungkap Fauzi.
Baca Juga: Kala Merah Putih Berkibar di Boven Digoel
Kapal ikan dari Thailand itu melintas dengan melakukan peran penggelapan dan kecepatan relatif tinggi. Saat itu, nahkoda kapal tidak menuruti perintah tim patroli TNI AL untuk berhenti.
"Maka patut diduga kapal tersebut melakukan pelanggaran. Dalam proses penghentian sempat terjadi proses pengejaran oleh tim patroli TNI AL, dikarenakan kapal tersebut sempat berupaya melarikan diri," jelas Fauzi.
Selain itu, lanjutnya, kapal ikan tersebut tidak memiliki alat penangkap ikan. Tim patroli TNI AL curiga dan langsung memeriksa isi kapal secara menyeluruh.
Baca Juga: Askomlek KSAU: Pengembangan Radar Hanud Bagian Penting dari Air Power Capability yang Tangguh
"Kepulauan Riau adalah corong terdepan masuknya barang-barang ini sehingga kita selalu berupaya berkomitmen untuk menindaklanjuti perintah Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali," ujarnya.
Usai berhasil menghentikan dan melakukan permeriksaan awal, tim patroli TNI AL mendapatkan data, kapal ikan tersebut diawaki oleh lima orang Warga Negara Asing (WNA) dengan identitas nakhoda inisial KS, warga negara Thailand, dan empat anak buah kapal (abk) berinisial UTT, AKO, KL, dan S asal Myanmar.

"Setelah kapal tiba di pangkalan, tim patroli melakukan penyelidikan lanjutan dan ditemukan muatan 95 buah karung, dibedakan dengan 2 jenis warna karung, yaitu warna kuning dan warna putih," lanjut Fauzi.
Rinciannya, untuk 35 karung berwarna kuning, satu karungnya berisi 20 bungkus teh Cina bewarna hijau, dengan total 700 bungkus dan berat 705 kg. Sedangkan 60 karung berwarna putih, satu karungnya berisi 20 bungkus teh China bewana merah, dengan total 1.200 bungkus dan berat 1.200 Kg.
Baca Juga: Prajurit Yonko 468 Kopasgat Rampungkan Latihan Tingkat Batalyon Sarotama Sakti 2025
"Sehingga jumlah keseluruhan adalah 1.900 kg atau 1,9 ton," kata Fauzi.
Dari hasil pemeriksaan tim kantow wilayah Bea Cukai Kepulauan Riau, terdapat indikasi 'barang' di dalam teh Cina tersebut, yakni narkotika jenis zabu dan kokain.
"Apabila diasumsikan dengan nilai rupiah, satu gram sabu seharga Rp1.500.000 dan satu gram kokain seharga Rp5.000.000, maka total nilai narkotika yang diamankan oleh TNI AL adalah senilai Rp7,057 Triliun. Selanjutnya dengan mendasari ketentuan UU nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika, TNI AL akan menyerahkan proses dan penanganan lebih lanjut kepada instansi yang berwenang," tuturnya.
Fauzi juga menekankan, TNI AL berkomitmen terus memperketat pengawasan perairan Indonesia khususnya di jalur-jalur yang rawan dimanfaatkan oleh sindikat internasional untuk kegiatan ilegal pada wilayah-wilayah perbatasan perairan NKRI. (at)
Hankam

Deretan Senjata Tempur Denjaka untuk Operasi Khusus Aspek Laut
Di balik nama Detasemen Jalamangkara (Denjaka), tersimpan daya gempur yang ditopang oleh persenjataan lintas platform. Satuan elite penanggulangan teror aspek laut TNI AL ini mengandalkan beragam senapan dan pistol khusus dari berbagai negara untuk menuntaskan misi di tri-matra.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































