KRI Torani-860 Tangkap Kapal Pembawa 15 PMI Ilegal di Perairan Asahan

Jakarta, IDM - KRI Torani-860 menangkap kapal nelayan bermuatan 15 pekerja migran Indonesia (PMI) ilegal yang melakukan perjalanan dari Malaysia menuju Indoneaia, melalui Perairan Asahan, Sumatra Utara, Selasa (13/12).
Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Danlanal) Tanjungbalai Asahan Letkol Laut (P) Aan Prana Tuah Sebayang, mengatakan patroli laut KRI Torani-860 dipimpin oleh Mayor Laut (P) Romi Sitorus.
"Dari ke-15 orang di kapal, juga terdapat satu balita dari PMI ilegal tanpa dokumen resmi. Saat ini, mereka diserahkan ke imigrasi Tanjungbalai," ungkap Aan dikutip dari laman TNI AL, Rabu (14/12).
Aan menyebutkan, para PMI ilegal tersebut berasal dari berbagai daerah, di antaranya Sumatra, Jawa, NTB, dan NTT. Tak hanya itu, turut diamankan juga nahkoda kapal berinisial AD (52) serta dua ABK, yakni FD (25) dan SP (36).
Baca: Resmikan Mako Lanal Kendari, Wakil KSAL: Fungsi Pangkalan Sangat Strategis
Ia melanjutkan, ketiga awak kapal tersebut merupakan warga Tanjungbalai. "Saat ini, kapal tanpa nama bersama tiga orang anak buah kapal (ABK) masih kita amankan di pangkalan Lanal Tanjungbalai, Asahan untuk proses lebih lanjut," ujarnya. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































