HANKAM

Kowal dan Angkatan Laut Chili Gelar Diskusi di Kapal Layar Esmeralda

Kowal.
Prajurit perempuan dari Angkatan Laut Chili memaparkan materi saat diskusi bersama Kowal di atas kapal layar Esmeralda yang sandar di Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (15/7). (Foto: Dok. TNI AL)

Jakarta, IDM – Korps Wanita TNI AL (Kowal) dan Angkatan Laut Chili berdiskusi soal peran perempuan sebagai prajurit matra laut. Kegiatan bertajuk 'Women, Peace, and Security' ini digelar di kapal layar latih CNS Esmeralda yang sandar di Tanjung Priok, Jakarta, Senin (14/7).

Wakil Duta Besar Chili untuk Indonesia dan Timor Leste Mario Ignacio Artaza, menyampaikan, kunjungan CNS Esmeralda merupakan impelementasi kebijakan luar negeri Chili. Salah satunya, membawa pesan feminis untuk pemberdayaan perempuan.

"Inilah jalan kita untuk berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan. Oleh karena itu, kebijakan luar negeri Chili adalah kebijakan feminis, yang mengajak para pemangku jabatan untuk memajukan otonomi dan pemberdayaan perempuan, dengan tujuan membantu perempuan dan laki-laki menghuni dunia yang lebih setara," ujar Artaza, dikutip dari laman TNI AL, Selasa (15/7).

Baca Juga: Tingkatkan Percepatan Produksi Peta Laut, Pushidrosal Gelar Pelatihan Mesin Cetak

Pada kesempatan ini, Letnan II Monserrat dan Ensign Fernanda memaparkan urgensi peran perempuan sebagai prajurit, serta pengalaman tokoh perempuan Angkatan Laut Chili.

Sementara dari Kowal, Letda Laut (KH/W) Maria Vanesa dan Letda Laut (P/W) Besty Chrisabel Tambunan, menceritakan pengalaman mereka tentang kepemimpinan perempuan serta peran "Srikandi Laut" dalam misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

CNS Esmeralda milik Angkatan Laut Chili ini bersandar di ibu kota sejak Minggu (13/7). Kapal layar latih tiang tinggi itu membawa 270 kru yang terdiri dari 227 pria dan 43 perempuan. Kunjungan mereka sebagai peringatan 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Chili.

Kowal.
(Foto: Dok. TNI AL)

Wakil Komandan Pangkalan Utama TNI AL (Wadanlantamal) III Kolonel Laut (P) Ranu Samiaji, mengungkapkan, CNS Esmeralda akan sandar selama empat hari di Jakarta dan melakukan sejumlah agenda bersama TNI AL.

"Dalam lawatannya ini, mereka akan berada di Jakarta selama empat hari, hingga 17 Juli yang akan datang," ungkap Ranu, dikutip dari keterangan Dispen Lantamal III, Senin (14/7).

Baca Juga: Daftar 11 Jenderal TNI AD yang Naik Pangkat Bintang 2

Sebelum tiba di ibu kota, CNS Esmeralda telah mengunjungi Osaka (Jepang) dan Shanghai (Cina). Setelah dari Jakarta, kapal akan melanjutkan pelayaran ke Sydney (Australia) sebelum kembali ke Chili.

CNS Esmeralda merupakan kapal latih Angkatan Laut Chili yang juga dikenal sebagai kapal layar tiang tinggi yang memiliki panjang 113 meter, lebar 13,11 meter, dan draft 7 meter, dengan berat 3.673 ton.

Kapal ini dapat mengangkut 300 pelaut dan 90 kadet Angkatan Laut Chili. CNS Esmeralda memiliki luas layar 2.870 meter persegi dengan 29 layar pada empat tiang. (at)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.