HANKAM

Kopassus TNI AD Prakarsai Penemuan Spesies Baru di Pulau Buton

kadal buta
Spesies baru kadal buta tak bertungkai (genus Dibamus) di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. (Foto: Dok. UGM)

Jakarta, IDM – Dosen sekaligus peneliti dari Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Donan Satria Yudha menyebut Kopassus TNI AD memprakarsai penemuan spesies baru kadal buta tak bertungkai (genus Dibamus) di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara.

Dilansir dari laman resmi Universitas Gadjah Mada, Rabu (17/9) Donan menceritakan penemuan ini bermula di tahun 2013 saat keikutsertaannya dalam kegiatan Ekspedisi NKRI Koridor Sulawesi yang diprakarsai oleh Kopassus TNI AD.

Pada saat itu, salah satu mahasiswa dari Fakultas Biologi UGM yang tengah mencangkul tanah, menemukan spesimen kadal tak bertungkai yang aneh dan mencurigakan. Sampel itu kemudian dikirimkan kepada Donan di Laboratorium Sistematika Hewan, Fakultas Biologi UGM.

Baca Juga: Peringati HUT ke-78, Yonif 509 Kostrad Gelar Ziarah ke TMP dan Monumen Pagar Gunung

Sampel tersebut kemudian ia kaji bersama Awal Riyanto, ahli herpetologi dari LIPI (kini di Kelompok Riset Herpetologi, Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi, BRIN). Kolaborasi dalam proses identifikasi ini juga melibatkan mahasiswa bimbingannya, Maximilianus Dwi Prasetyo, yang menjadikan penelitian ini sebagai topik skripsinya.

“Penelitian Mas Maxi yang saya bimbing ini kemudian dibantu oleh Bapak Thasun Amarashinge dari BRIN beserta kolega beliau. Akhirnya teridentifikasi sebagai spesies baru dan diterbitkan dalam jurnal tersebut,” ungkap Donan.

Lebih lanjut, Donan menjelaskan bahwa spesies kadal buta yang ditemuinya ini memiliki beberapa karakter morfologi yang membedakannya dari Dibamus lain, terutama pada bagian kepala. Perbedaan utamanya terletak dibagian kepala, yakni tidak adanya sutura (garis-garis) pada bagian medial dan lateral dari rostral (moncong), dan sutura di bagian labial dan nasal lengkap.

“Sisik bagian frontalnya juga lebih besar daripada frontonasal. Kemudian sisik interparietal tampak jelas lebih kecil dari frontonasal, sisik nuchal berjumlah 4-6 buah, sisik postocular dua buah, sisik supralabial satu buah, dan masih ada lagi karakter pembeda di bagian badan dan ekornya,” terangnya.

Meski menjadi temuan penting, Donan menekankan bahwa keberadaan Dibamus oetamai ini berpotensi terancam. Hal ini dikarenakan spesies tersebut bersifat endemik Pulau Buton, dengan sebaran yang sejauh ini baru diketahui di kawasan hutan lindung Kakenauwe dan Lambusango pada ketinggian di bawah 400 mdpl. Habitat spesies adalah hutan hujan musiman dengan serasah tebal.

Baca Juga: TNI AL Bakal Punya Kapal Bantu Hidro-Oseanografi dari Jerman, Calon Awak Dibekali UNCLOS 1982

“Jadi kemungkinan besar kelestarian spesies ini terancam di masa depan karena spesies ini hidupnya tergantung pada keberadaan hutan,” ujar Donan.

Donan mengatakan fokus utama mereka adalah penemuan spesies baru dan penelitian ini menjadi penanda penting bahwa masih banyak spesies baru di kawasan hutan Indonesia, khususnya di pulau-pulau.

“Jika memungkinkan, saya ingin memberikan masukan kepada Pemerintah untuk tidak membuka hutan atau mengubah hutan sebagai tempat aktivitas manusia, karena masih banyak spesies baru di dalam area berhutan dimanapun, terutama di pulau-pulau di Indonesia seperti Pulau Buton,” pungkasnya. (rr)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.