Kopassus Sematkan Brevet Para Utama untuk KSAD Singapura

Jakarta, IDM – Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus Mayjen TNI Djon Afriandi menganugerahkan "Brevet Para Utama Kehormatan" kepada Major General Cai Dexian di Mako Kopassus, Jakarta, Selasa (8/7).
Keterangan Penkopassus menyarakan, penyematan brevet tersebut melambangkan komitmen kuat kedua negara dalam kemitraan strategis di bidang militer.
Baca Juga: Poltekad TNI AD Ciptakan Water Treatment, Solusi Air Minum Praktis untuk Prajurit di Medan Operasi
Selain itu juga menunjukkan eratnya hubungan bilateral dan kerja sama Indonesia dan Singapura, khususnya dalam menjaga stabilitas keamanan regional.
Kopassus dan Angkatan Bersenjata Singapura Singapore tercatat beberapa kali melakukan latihan bersama.
Baca Juga: Indonesia–Singapura Perkuat Sinergi Pertahanan Lewat Diplomasi Strategis dan Forum DCC ke-2
Pada Juli 2024 di Singapura, kedua pasukan menggelar latihan bertajuk “30th edition of Exercise Chandrapura (XCP)”.
Dalam kegiatan itu kedua angkatan saling bertukar pengetahuan taktik dan teknik, serta prosedur komando dalam sebuah pertempuran, melaksanakan latihan serangan gabungan dalam operasi perang kota, serta infiltrasi atau penerjunan pasukan melalui udara. (rr)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































