HANKAM

Komunitas Peduli Hankam Gelar Seminar Refleksi 80 Tahun TNI, Soroti Masa Depan Pertahanan Nasional dan Modernisasi Berbasis Kepentingan Bangsa

Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachma
Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman. (IDM/Septo Kun Wijaya)

Jakarta, IDM – Dalam rangka memperingati 80 tahun Tentara Nasional Indonesia (TNI), Komunitas Peduli Hankam (KPH) menyelenggarakan seminar bertajuk “Refleksi 80 Tahun dan Harapan Masa Depan untuk Pertahanan Nasional Indonesia” di Jakarta, Sabtu (25/10).

Acara ini menjadi ruang strategis bagi generasi muda, pakar pertahanan, dan masyarakat sipil untuk mengevaluasi arah kebijakan pertahanan nasional serta memperkuat partisipasi publik dalam isu-isu keamanan negara.

Salah satu sorotan utama dalam seminar ini adalah pemaparan hasil survei KPH yang dilakukan pada 1–21 September 2025. Survei tersebut mengungkap tingginya perhatian masyarakat terhadap modernisasi alutsista dan pertahanan siber.

Baca Juga: PT DI Jajaki Kerja Sama Produksi Pesawat N219 Khusus Bakamla, Bisa Deteksi Tumpahan Minyak

Kemudian kekhawatiran publik terhadap ancaman kedaulatan dan tuntutan transparansi dalam kebijakan pertahanan serta beragam persepsi terhadap kesiapan dan kecukupan alutsista TNI.

Executive Coordinator KPH, Kenzie S. Ryvantya, menyatakan bahwa modernisasi pertahanan harus berpihak pada kepentingan nasional, terutama di tengah kompetisi geopolitik dan percepatan teknologi militer global.

Ia juga menekankan bahwa penguatan pertahanan siber tidak cukup hanya pada infrastruktur, tetapi harus mencakup pengembangan SDM dan literasi digital.

Seminar Komunitas Peduli Hankam
Seminar Komunitas Peduli Hankam. (IDM/Septo Kun Wijaya)

Seminar ini turut dihadiri oleh Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman, mantan KSAD dan Penasihat Khusus Presiden Bidang Pertahanan Nasional, Curie Maharani Savitri, Direktur Riset Indo-Pacific Strategic Intelligence, Nurhidayat Nasution, Senior News Editor Indonesia Defense Magazine

Dudung menyampaikan apresiasinya terhadap KPH sebagai wadah konstruktif bagi generasi muda untuk memahami dinamika lingkungan strategis global dan sistem pertahanan semesta (Sishankamrata). Ia menekankan pentingnya kesadaran anak muda terhadap perubahan ancaman dan peran mereka dalam menjaga kedaulatan negara.

Baca Juga: Dankodiklatal Dorong Modernisasi Intai Para Amfibi Marinir TNI AL

Sementara itu, dalam sesi diskusi, Nurhidayat Nasution menyoroti perlunya ruang-ruang dialog yang rutin dan terbuka mengenai kebijakan pertahanan dan pengadaan alutsista.

Menurutnya, forum seperti ini dapat melahirkan pemikiran yang lebih konstruktif dan memperkuat pemahaman publik terhadap kebijakan strategis negara.

Melalui seminar ini, KPH menegaskan komitmennya untuk mendorong sistem pertahanan nasional yang lebih terbuka, mandiri, dan adaptif. KPH juga mengajak masyarakat untuk terus berpartisipasi melalui kanal digital mereka, baik dalam bentuk esai, survei lanjutan, maupun diskusi daring. (nhn)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.