Komandan Puskopaska Kumpulkan Prajurit Baret Merah TNI AL di Pondok Dayung

Jakarta, IDM – Komandan Pusat Komando Pasukan Katak (Danpuskopaska) Laksamana Pertama Monang Hatorangan Sitompul, memberikan jam komandan kepada para prajurit Kopaska Koarmada I, di Pondok Dayung, Jakarta, Selasa (7/1).
Dalam kunjungan kerja ke markas Kopaska Koarmada I tersebut, Monang menyampaikan arahan tentang prajurit Kopaska yang dikenal tangguh, profesional, dan berjati diri.
Baca Juga: Brigjen TNI Hendy Antariksa Jabat Komandan Komando Operasi Khusus
Dia juga menekankan kepada para prajurit baret merah TNI AL itu untuk menghindari kegiatan dan pola hidup yang negatifn
"Jauhi gaya hidup konsumtif dan hedonis, judi dan pinjaman online, radikalisme, LGBT, dan narkoba," tegasnya, dikutip dari keterangan Puskopaska TNI AL, Rabu (7/1).
Baca Juga: Danpuspom TNI Ajak Pemain Timnas U-20 Jadi Prajurit TNI
Selain menyampaikan arahan, Monang turut memberikan penghargaan (reward) kepada prajurit Kopaska Koarmada I yang berprestasi. Dia juga berkesempatan meninjau beberapa fasilitas dan peralatan latihan prajurit, seperti lapangan tembak indoor laras panjang dan sea rider di hanggar Den VI Kopaska Koarmada I. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































