Komandan KRI Sultan Iskandar Muda Ungkap Pelanggaran Wilayah oleh Israel di Lebanon

Jakarta, IDM – Prajurit TNI AL yang tergabung dalam Satgas Maritime Task Force (MTF) Kontingen Garuda (Konga) XXVIII-P Unifil kembali ke Tanah Air. Di balik suksesnya misi perdamaian di Lebanon, terselip cerita ketegangan saat KRI Sultan Iskandar Muda-367 mendeteksi rentetan pelanggaran wilayah yang dilakukan militer Israel.
Komandan Satgas MTF Konga XXVIII-P Unifil Letkol Laut (P) Anugerah Annurullah, mengungkapkan pelanggaran wilayah udara oleh Israel merupakan kejadian sehari-hari. Pesawat tempur hingga pesawat tanpa awak (drone) milik Israel terpantau rutin menerobos kedaulatan Lebanon.
"Itu sudah hampir setiap hari kita laporkan. Karena hampir setiap hari selalu ada, paling tidak dua, tiga, empat, lima itu setiap hari pasti ada pelanggaran wilayah yang dilakukan oleh Israel dan kita secara konsisten melaporkan itu," ujar Anugerah yang juga selaku Komandan KRI Sultan Iskandar Muda, Jakarta, Minggu (1/2).
Baca Juga: TNI AD dan Singapura Army Perkuat Kerja Sama Militer, Ini Fokusnya
Jadi 'Mata dan Telinga' PBB
Tugas KRI Sultan Iskandar Muda bukan sekadar berlayar. Kapal perang jenis korvet kelas Sigma ini menjadi ujung tombak PBB dalam memonitor ruang udara (air space) di atas Lebanon. Setiap pergerakan mencurigakan yang tertangkap radar langsung dikirim ke markas Unifil sebagai bukti diplomatik.
"Kita secara konsisten melaporkan itu. Tugas kita sama (dengan kapal Jerman, Bangladesh, Turki), melaporkan pelanggaran wilayah yang dilakukan oleh Israel untuk kemudian dilanjutkan di level strategis untuk langkah-langkah diplomasi," tegasnya.
Terjebak di Garis Api Perang 12 Hari
Momen paling kritis terjadi pada Juni 2025. Saat itu, pecah perang 12 hari antara Iran dan Israel. Anugerah menceritakan bagaimana kapal kebanggaan Indonesia ini terjebak di line of fire atau garis lintasan tembak.
Rudal-rudal jelajah Iran yang mengincar Israel tidak terbang lurus, melainkan memutar melewati Suriah dan Laut Mediterania. Jalur ini tepat berada di atas koordinat KRI Sultan Iskandar Muda melakukan patroli.
"Bisa dikatakan serangan lintasan rudal itu tepat berada di atas kepala kita. Sementara aksi intercept (penghadangan) atau pertahanan udara dari Israel pun juga terjadi di atas kita," kenang Anugerah.
Meski situasi mencekam dan alarm battle stations (posisi tempur) berbunyi, kru KRI Sultan Iskandar Muda tetap tenang. Mereka melakukan manuver force protection untuk melindungi kapal sambil terus melaporkan gelombang serangan rudal ke markas PBB.
Baca Juga: Longsor Cisarua: 2 Lagi Prajurit Marinir Ditemukan, 13 Masih Dicari
Dilepas dengan Kehormatan Tinggi
Kepulangan 120 prajurit KRI Sultan Iskandar Muda disambut langsung oleh Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali. Selama 14 bulan bertugas, KRI Sultan Iskandar Muda tercatat melakukan 33 kali on task dan menjalankan 150 kali latihan bersama angkatan laut asing.
"Kapal ini adalah salah satu yang dipertahankan (oleh PBB) di tengah reduksi pasukan perdamaian dunia. Itu semua berkat kinerja dan dedikasi kita," pungkas Anugerah bangga.
Atas prestasi tersebut, para prajurit menerima berbagai penghargaan internasional, mulai dari UN Medal hingga penghargaan khusus dari Angkatan Laut Jerman dan Lebanon, sebelum akhirnya kembali ke dekapan keluarga di Indonesia. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































