Kolonel TNI AD Ciptakan Drone Elang Terinspirasi dari Layang-layang

Jakarta, IDM – Kolonel Arh Nur Rachman seorang prajurit TNI AD yang berdinas di Politeknik Angkatan Darat (Poltekad) berhasil menciptakan drone yang murah dan ramah lingkungan yaitu "Drone Elang".
Kepada Indonesia Defense Magazine, Nur yang bertugas sebagai dosen di Poltekad ini mengatakan bahwa menciptakan alutsista tidak perlu harus mahal, berbahan seadanya tapi punya fungsi yang maksimal.
"Jadi awal tercipta drone elang merujuk pada mata kuliah untuk mahasiswa saya. Saya kebetulan menjadi pengajar di materi unmanned aerial vehicle (UAV) atau pesawat tanpa awak," kata Nur ditemui di Kota Batu, Malang, Jawa Timur.
Nur mengisahkan bahwa saat ini berkembang namanya teknologi drone ornitopter, yaitu drone yang menyerupai unggas, menyerupai binatang, menyerupai serangga. Karena ide ini ia pun berpikir untuk mengembangkan drone elang.
Baca Juga: TNI AD Wajibkan Pati dan Danyon Uji Kemampuan Jasmani dan Militer
"Kenapa pilihan saya ke burung? Pertama karena lebih simpel ya. Jadi awalnya saya ajarkan anak-anak (siswa Poltekad) itu seperti membuat layang-layang. Kan ada layang-layang model burung. Ya burung-burung kayak burung air," kata Nur.

Dari sini lanjut Nur, ia kemudian mengembangkan sistem aerodinamika, agar sayap dari drone elang bisa bergerak. Ia mengaku terinspirasi dari gerakan karet yang diputar menghasilkan tenaga dorongan.
"Bagaimana gerakan sayap? Sebenarnya banyak contoh di Youtube, bahkan ada contoh yang digerakkan pakai karet yang diputar, setelah itu dia lepas, putarannya karet itulah digunakan untuk tenaga penggeraknya. Nah, gerakan karet ini coba saya ganti menggunakan motor," jelas Nur.
Baca Juga: Boeing Akhiri Proses Penjualan Jet Tempur F-15 untuk Indonesia, Kemhan Beri Penjelasan
Berkali-kali Gagal
Percobaan awal tak selalu mulus, Nur mengaku dengan dibebani motor penggerak drone elang buatannya tak mampu terbang. Ia menemukan persoalannya yaitu keseimbangan.
"Layang-layang juga begitu. Kenapa layang-layang bisa terbang? Itu karena seimbang kanan-kirinya. Apalagi berhadap dengan angin, itu yang paling besar pengaruhnya. Bagaimana bisa terbang tapi secara stabil bisa imbang? Nah itu tantangannya di situ," kata Nur.
Insinyur bidang teknik ini pun akhirnya berkali-kali mencoba berbagai bahan dari menggunakan kertas, menggunakan plastik hingga akhirnya terpaut ke kain jenis poliester untuk membuat payung. Dari kain ini, rangka-rangka drone elang pun didesain kembali menggunakan stik pancing berbahan fiber.

Selanjutnya, Nur mencoba menerbangkan drone tersebut dan berhasil. Ia pun menambahkan kamera kecil yang memancar ke First Person View (FPV) sebagai operatornya, yang dikendalikan remote control. Kemudian juga menambahkan bahan peledak berkekuatan kecil di drone tersebut.
Baca Juga: Tingkatkan Kemampuan Personel, Puslaiklambangjaau Gelar Basic Investigator Workshop
"Cara kerja operatornya dipakai seperti kaca mata virtual. Dari sini kita bisa memantau aktivitas sekelilingnya," kata Nur.
Terkait biaya yang dihabiskan Nur menyebut sekitar Rp 8 - 10 juta. Hal ini lantaran drone yang dikembangkan ini levelnya masih untuk tahap pembelajaran.
Terakhir Nur memastikan jika drone elang yang dibuatnya tidak hanya bisa mengelabui manusia dari sisi penglihatan. Akan tetapi drone tersebut juga tidak bisa terdeteksi oleh radar.
“Bahkan teknologi yang kami kembangkan ini insyaallah juga tidak bisa terdeteksi oleh radar karena suaranya yang senyap dan termasuk bisa mendukung pengintaian,” kata Nur yang sudah menciptakan ratusan inovasi ini. (rr)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































