Kodiklatal Gelar Penataran Sistem Latihan TNI 2022

Jakarta, IDM - Direktur Latihan Kodiklatal Brigjen TNI (Mar) Widodo, membuka pelaksanaan Penataran Sistem Latihan (Tarsislat) TNI 2022 di Surabaya, Senin (21/11).
Widodo mengatakan, penataran sistem latihan TNI 2022 bertujuan memberikan pembekalan tentang sistem penyelenggaraan latihan TNI kepada para perwira Kodiklatal, selaku peserta penataran yang akan menjadi pejabat dalam pembina latihan TNI AL.
Dia menuturkan, selama sembilan hari ke depan, sebanyam 140 peserta penataran akan menerima berbagai materi, seperti manajemen, penyusunan naskah, dan penyelenggaraan latihan serta renkon TNI dan renkamil.

"Semuanya terkait dengan latihan-latihan yang telah menjadi program TNI AL, baik itu latihan organik, integratif maupun armada jaya," tuturnya dikutip dari keterangan Pen Kodiklatal, Selasa (22/11).
Baca: TNI AL bersama Angkatan Laut Brunei Darussalam Gelar Latma Helang Laut
Widodo berharap, para Petatar sesuai strata jabatan mempunyai kualitas yang semakin mumpuni dalam mengelola manajemen latihan serta mampu mendesain latihan.
"Mulai dari pemograman, penyelenggaraan asistensi, pengawasan dan pengendalian latihan sesuai standar," tegasnya. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































