HANKAM

Kisah Lettu Inf Sulthan: Selamat dari Serangan Bom demi Bendera Merah Putih

Sulthan Wirdean Maulana
Lettu Inf Sulthan Wirdean Maulana saat meneriman penghargaan gelar, tanda jasa dan tanda kehormatan dari pemerintah Republik Indonesia. (Foto: Dok. Instagram @akmil_2022)

Jakarta, IDM – Kisah heroik dan menyentuh hati datang dari seorang prajurit TNI Angkatan Darat yang berhasil selamat dari serangan bom di medan penugasan Lebanon. Ia adalah Lettu Inf Sulthan Wirdean Maulana.

​Dilansir dari akun Instagram resmi alumni Akademi Militer (Akmil) 2022, @akmil_2022, pada Sabtu (20/6), insiden tersebut terjadi pada Senin, 30 Maret 2026. Saat itu, Lettu Sulthan sedang melaksanakan misi pengawalan Tim Combat Service Support Unit (CSSU) Spanyol menuju ke lokasi kontingen Indonesia untuk melakukan resuplai logistik dan evakuasi jenazah. Namun di tengah perjalanan, kendaraan yang mereka tumpangi terkena serangan Improvised Explosive Device (IED) atau bom rakitan.

Baca Juga: Latma Malindo Jaya, TNI AL Siapkan Dua KRI untuk Manuver Laut

​"Dalam peristiwa tersebut, Lettu Sulthan bersama Mayor Inf (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar dan lima prajurit lainnya tengah menjalankan tugas negara di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ledakan yang terjadi menjadi ujian berat yang mengorbankan putra-putra terbaik bangsa. Namun atas izin Allah SWT, Lettu Inf Sulthan termasuk salah satu dari dua personel yang selamat dari peristiwa tersebut," tulis keterangan di akun Instagram @akmil_2022.

​Melanjutkan Perjuangan Rekan yang Gugur

​Bagi Lettu Sulthan, selamat dari insiden mematikan tersebut bukanlah akhir dari segalanya. Kesempatan hidup kedua ini ia maknai sebagai amanah besar untuk terus mengabdi dan melanjutkan perjuangan rekan-rekannya yang telah gugur di medan laga.

​"Kesempatan hidup yang kedua tidak beliau maknai sebagai keberuntungan semata, melainkan amanah untuk terus mengabdi, melanjutkan perjuangan rekan-rekan yang telah gugur, serta mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional," lanjut keterangan resmi tersebut.

​Kehadiran Lettu Sulthan sebagai perwakilan Satgas, satuan, dan Letting Akmil 2022 dalam menerima Piagam Penghargaan menjadi simbol keteguhan hati seorang prajurit yang telah melewati ujian luar biasa. Menurutnya, kisah ini bukan sekadar tentang bertahan hidup dari maut, melainkan tentang keberanian untuk tetap berdiri tegak, melanjutkan pengabdian, dan menjadi inspirasi bagi generasi penerus bangsa.

Baca Juga: Lanud Anang Busra Salurkan 5 Ton Bansos dan Buka Layanan Kesehatan Gratis di Perbatasan

​Di akhir pesannya, Lettu Sulthan memberikan untaian kalimat bijak yang mendalam mengenai arti kehidupan seorang prajurit.

​“Hidup itu bukan berdasarkan dari prestasi yang kita dapatkan, namun hidup adalah suatu perjalanan di mana kita sudah melaksanakan perintah Allah SWT, tugas, dan tanggung jawab yang telah dilaksanakan secara jujur dan amanah," pungkas Lettu Sulthan.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.